Tampilkan postingan dengan label asia tenggara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asia tenggara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2015

Ribet Urusan Duit Di Kamboja

Supir Tuk Tuk Di Angkor Wat
Kamboja menurut saya merupakan salah satu negara yang penuh dengan kejutan. Mulai dari saat awal mau masuk ke negara ini yang penuh perjuangan sampai saat keliling dan jalan-jalan disini. Saya nggak nyangka bakal diribetin banget sama urusan duit di Kamboja.

Hal pertama yang bikin ribet adalah di negara ini berlaku dua mata uang yang berbeda yaitu mata uang lokal yang namanya Khmer Riel sama US Dollar. Nilai tukar idealnya adalah 1 USD = 4000 KHR. Setiap transaksi kita bebas pilih pakai mata uang mana. Nah, yang bikin ribet adalah saat kita bayar pakai dollar sering kali uang kembaliannya dikasih riel. Misal kita belanja 0.7 USD dan bayar pakai 1 USD terus dikasih kembalian 1200 KHR. Ribet nggak tuh setiap saat harus ngecek uang kembalian dengan konversi balik ke dollar.

Konversi balik ke dollar kan gampang! Tinggal dikali 4000 KHR beres!

Weeiits, tidak semudah itu sodara-sodara karena kadang-kadang ada toko memberlakukan nilai tukar yang agak berbeda dan tidak ikut standar 1USD = 4000 KHR. Saya pernah balikin uang kembalian ke kasir karena saya pikir kelebihan tapi ternyata nilai tukar disana lebih tinggi (1USD =    4100 KHR). Well, bedanya nggak jauh sih dan saya yang untung juga tapi yang bikin males adalah harus dapet banyak uang koinan.

Ribet kedua adalah di Kamboja mereka tidak menerima semua pecahan dollar. Ini adalah fakta yang baru saya tahu ketika sampe di hostel di Siem Reap. Saat itu saya bayar hostel pakai cash dan tiba-tiba ada uang saya yang dibalikin sama receptionist sambil bilang, “Maaf di Kamboja kami tidak menerima pecahan uang 2 Dollar!” Lah kenapa yaa? Pas saya tanya mereka hanya jawab itu hal yang sudah berlaku secara umum disini. Sip!

Besok harinya karena penasaran, saya iseng belanja ke mini market pake 2 Dollar keramat itu dan ternyata di tolak juga. Saya sempat nyelipin uang 2 Dollar itu di sela-sela pecahan lain buat bayar tuk-tuk eh ketahuan juga. Wahahaha akhirnya uang 2 Dollar satu-satunya itu masih ada di dompet sampai sekarang.

Ribet ketiga adalah saya nggak nyangka kalau harus keluar lumayan banyak duit di Kamboja. Awalnya saya pikir kalau Kamboja adalah negara yang murmer tapi ternyata nggak gitu juga. Tiket pas Angkor Wat yang berlaku sehari harganya 20 USD atau kira-kira 300 ribuan kalau pakai kurs rupiah sekarang yang kira-kira 14 ribu. Terus kemana-mana harus naik tuk-tuk yang bayarnya pakai dollar lagi dan kalau mau dapet murah harus rajin nawar atau sharing. Pernah terpaksa naik tuk-tuk 5 USD karena bus kemaleman dari terminal ke hostel yang ternyata nggak terlalu jauh terus besok paginya di tawarin tuk-tuk dengan harga yang sama buat seharian keliling Angkor. Yasalam, kena tipu deh saya selamen naik tuk-tuk mahal banget T_T

Selain tempat wisata sama transportasi ternyata harga barang kebutuhan sehari-hari pun lumayan juga. Saya terpaksa harus beli odol dan sikat gigi baru karena sialnya kedua barang itu ketinggalan di hostel sebelumnya. Mirisnya harganya mihil bingit yaitu 2 USD untuk sikat gigi standar dan pasta gigi ukuran paling kecil. Oia, air putih kemasan itu juga mahal harganya antara 0.7 USD kalau beli di supermarket atau 1 USD kalau beli hostel. Harganya lebih mahal dari beer dong! Sedihnya lagi biasanya saya bisa minum tap water kalau harga air kemasan mahal tapi di Kamboja tap waternya nggak bisa diminum. Hiks!


Saya sebenarnya nggak habis pikir apakah biaya hidup masyarakat Kamboja memang setinggi ini? Atau mungkin ini cuma karena saya yang tinggal di kawasan wisata komersil Siam Reap? Namun terlepas dari semua anomali, keribetan, dan harga-harga yang mengejutkan itu, Kamboja negara yang sangat menyenangkan kok! J

Minggu, 06 Desember 2015

5 Kuliner Wajib Saat Berkunjung ke Vietnam

Penjaja makanan pinggir jalan di Ho Chi Minh
Pengalaman pertama kali saya mencoba masakan Vietnam adalah saat menjadi exchange student di Lithuania. Hang, teman asal Vietnam, adalah orang yang pertama memperkenalkan saya pada Vietnamese spring roll. Walaupun dia mengaku tidak jago masak tapi lumpia khas Vietnam buatannya sukses membuat saya ketagihan.

            Hang juga pernah masak Pho Noddle yang juga enak. Lagi-lagi dia mengaku kalau rasa Pho Noddle buatannya jauh daripada rasa asli masakan ini. Hang mengaku susah menemukan bumbu Pho Noddle di Lithuania jadi hanya pakai bumbu seadanya.

            Waktu traveling ke Ceko saya menginap dirumah Ayah Hang dan keluarganya yang sudah lama menetap disana. Saat makan malam lagi lagi saya disuguhi berbagai macam masakan Vietnam yang rasanya nggak usah ditanya lagi sangat mantap. Saya lupa apa saja namanya namun juaranya adalah beef salad.

            Saat saya dan beberapa teman traveling ke Paris, kami sempat jajan Pho Noddle di tempat makan yang sangat rame. Saya cerita ke Hang dan dia malah marah dan bilang kalau mau nyoba Pho Noddle yang “asli” harus coba di negara asalnya dong!

Maka saat Indochina trip kemarin saya bela-belain mampir Vietnam demi menuntaskan rasa penasaran akan rasa Pho Noddle yang “asli”. Selain itu saya juga kangen spring roll seperti dibuatkan Hang dulu.

Ternyata selain Pho Noddle dan Spring Roll saya kebablasan nyobain kuliner Vietnam dan banyak makan ini dan itu. Berikut 5 kuliner yang wajib dan kudu banget harus dicicipi saat kalian jalan-jalan ke Vietnam khususnya Ho Chi Minh : 

1.    Vietnamese Spring Roll
Vietnamese Shrimp Roll :9
Ini makanan yang pertama saya cari saat baru tiba di Vietnam. Saya sudah rindu berat dan nyidam makan spring roll lagi sejak lama. Sudah sekitar satu tahun lalu saya makan spring roll buatan Hang di Lithuania namun kali ini saya akan langsung mencicipi di negara aslinya.
Vietnamese spring roll ini berbuat dari rice paper yang digulung dan bentuknya persis seperti lumpia biasa. Isinya bervariasi tapi yang umum adalah mie bihun, selada, udang, sayuran, dan daun-daunan kayak mint atau kemangi yang bikin rasanya seger pedas semriwing gimana gitu.

Cara makan vietnamese spring roll adalah dengan dicocol saus pedas manis. Saya nggak tau campuran sausnya apa tapi ada banyak campuran bumbu. Vietnamese spring roll ini makanan sehat karena tidak digoreng.

Oia satu yang saya suka adalah spring roll ini sangat fotogenik karen rice paper yang digunakan untuk membungkus itu transparan jadi kita bisa liat isinya yang warna warni orange-merah-ijo-putih.

2.    Pho Noodles
Pho Noodles President :9
Pho Noodles mungkin merupakan makanan yang paling dikenal dari Vietnam. Pho Noodles adalah mie kuah dengan topping beef bedanya mie terbuat dari beras dengan bentuk pipih lebar mirip kwiteau. Rasa mienya lembut dan makannya ditambah toge, irisan cabe, dan lagi lagi dedaunan yang rasanya pedes mint gitu.

Tempat makan Pho Noodles yang terkenal di Ho Chi Minh adalah Pho Noodles 2000 atau Pho Noodles President. Lokasi Pho Noodles 2000 ini deket sama Ben Thanh Market. Saya sempat nggak nemu tempat ini karena ternyata ada dilantai dua gedung yang bawahnya Coffee Bean and Tea Leaf.

Pho Noodles 2000 ini bakal rame banget kalau jam makan siang jadi kalau nggak mau nunggu lama hindari jam-jam tersebut. Harga Pho Noodles disini relatif agak mahal dibanding yang dipasar. Pho Noodles 2000 jadi terkenal karena pernah dikunjungi president Bill Clinton.

Oia kalau dimeja disediain tisu basah jangan dipakai yaa guys karena itu nggak gratis alias harus bayar! Sialnya saya karena kurang baca jadi kena jebakan ini dan harus bayar L

3.    Rice Paper Taco
Nama Vietnamnya Banh Trang Nuong karena ribet mari kita sebut saja rice paper taco. Ya bentuknya memang mirip taco khas Meksiko itu. Awalnya saya tidak terlalu menaruh perhatian pada makanan yang satu ini sampai saya sadar bahwa banyak yang jual makanan ini di trotoar jalan. Saya jadi penasaran mau coba.

Seperti namanya, makanan ini terbuat dari lembaran rice paper yang diatasnya dikasih telur puyuh, bubuk merah mirip cabe, sama bubuk-bubuk lain yang saya nggak tahu apaan. Cara masaknya adalah dengan dibakar diatas arang.

Bentuknya mirip pizza dan rasanya unik. Jujur saya tidak terlalu favorite tapi yang penting sudah mencoba. Oia rice paper taco ini ternyata jajanan anak SD. Pantesan saya ketemu penjualnya lagi ngemper pake dingklik di depan sekolahan.

4.    Vietnamese Baguette Sandwich
Vietnamese Baguette Sandwich atan Banh Mi ini makanan favorite saya buat sarapan. Sangat mudah menemukan penjual Banh Mi karena nggak usah dicari dan tinggal jalan aja di trotoar pasti bakal dipanggil-panggil.

Sebenarnya Banh Mi nggak terlalu otentik Vietnam sih karena makanan ini adalah hasil pengaruh budaya barat lebih tepatnya Perancis. Vietnam dijajah Perancis lebih dari 1 abad dan budaya makan roti baguette masih tetap tinggal. Saya jadi heran sama Indonesia yang dijajah lebih lama oleh Belanda 3,5 abad tapi kita kok nggak ada budaya makan roti dan jadi rice holic.

Banh Mi ini sebenarnya kayak sandwich biasa sih kayak makan Subway gitu. Banh Mi dibuat dari french roll bun yang dibelah dan tengahnya diisi  daun ketumbar atau cilantro, potongan timun tipis, potongan wortel, daging yang biasanya babi.

5.    Ice Coffee
Vietnamese Coffee
Saya bukan fans berat kopi tapi berusaha selalu mencoba jika ada kopi khas suatu daerah. Vietnam punya es kopi hitam yang terkenal. Awalnya saya underestimate karena saya pikir rasanya bakal biasa aja. Saya tidak bisa terlalu membedakan rasa-rasa kopi namun jujur es kopi Vietnam itu enak.

Kopi Vietnam rasanya sangat kuat walaupun sudah dicampur susu namun tetap rasa kopinya akan sangat dominan. Saya tidak dapat mendefinisikan rasa yang tepat tapi secara garis besar es kopi Vietnam seger banget.

Penjual es kopi hitam ada dimana-mana kok. Biasanya penjualnya paketan sama jualan Banh Mi. Oia yang unik lagi kalau jajan di Vietnam itu makannya dipinggir jalan pake meja dan kursi pendek ukuran anak TK gitu. Seru seru seru! Selamat makan dan mencoba yaaaa!

Senin, 16 November 2015

Teman Hostel Kena Jambret

HCM Street, Vietnam
Saya baru saja tiba di sebuah kapsul hotel di jalan Bui Vien, Ho Chi Minh. Lokasi hotel ini tidak jauh dari jalan utama kawasan backpacker yaitu jalan Pham Ngu Lao. Jam menunjukkan pukul 11.30 siang waktu setempat. Matahari bersinar terik sekali siang itu di Ho Chi Minh. Saya sukses basah kuyup oleh keringat setelah jalan beberapa blok dari terminal bus ke hotel di tambah nyasar beberapa kali. Setelah tanya sana-sini dan menolak belasan tawaran dari tukang ojeg akhirnya ketemu juga nih hotel. Kesan pertama di Ho Chi Minh adalah kota ini rame banget sama motor.

Saya datang terlalu awal dan harus menunggu di lobby hotel untuk check in pukul 14.00 siang. Masih tersisa waktu menunggu 2.5 jam lagi. Beruntung ada AC di lobby jadi numpang ngadem dulu sekalian Wi-Fi an. Saya langsung kirim kabar via WA ke Hang. Dia adalah teman asli Vietnam tapi tinggalnya di Hanoi, Vietnam bagian utara. Dia excited banget tau saya udah sampe Vietnam dan kasih banyak rekomendasi tempat-tempat menarik. Saya asik chatting sambil minum es kopi Vietnam yang rasanya sueegeer banget tiba-tiba ada tiga cewek remaja masuk lobby sambil nangis bombay.

Ketiga cewek ini tampangnya oriental dan terlihat masih ABG. Cewek 1 terluka dibagian lutut dan sikunya. Dari bekas lukanya terlihat seperti luka akibat terjatuh di jalan beraspal. Dia dipapah oleh kedua teman ceweknya sambil terus nangis bombay. Cewek 2 dan 3 masuk hotel sambil terus memaki-maki penjambret yang baru saja mengambil tas mereka. Sontak semua orang di lobby langsung mengalihkan pandangan kepada mereka. Ada dua receptionist hotel saat itu dan beberapa orang tamu di lobby termasuk saya. Saya cuma diam melongo. Perasaan saya waktu itu antara kaget, tidak percaya, dan sedikit takut.

Cewek 2 dan 3 kemudian secara bergantian bercerita apa yang baru saja mereka alami. Katanya mereka baru saja kena jambret di jalan dekat hotel. Penjambretnya naik motor dan langsung menarik tas cewek 1 sampai dia jatuh tersungkur ke aspal. Semua barang berharga dia taruh di tas jinjing itu. Ada iPhone dan dompet yang isinya uang dan kartu kredit tapi untungnya passport mereka dititipkan di hotel. Parahnya barang berharga mereka bertiga berada di dalam satu tas jinjing yang hilang itu. Yasalam! Mereka bertiga mendadak histeris dan akhirnya pecahlah tangis cewek 2 dan 3 sampai suaranya memenuhi seisi lobby.

Setelah beberapa saat cewek 2 minta lapor polisi tapi seorang receptionist hotel bilang kalau itu bakal sia-sia dan memakan waktu. Mereka tidak punya informasi penting apapun seperti plat nomor atau sketsa wajah penjambret. Cewek 3 mengajukan opsi lain untuk menelepon kedubes China dan meminta pertolongan dari mereka. Cewek 1 teriak kesakitan ketika lukanya dibersihkan oleh salah seorang receptionist. Oooh dramatis sekali suasana lobby siang ini! Saya merasa iba tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Keadaan sedikit mereda setelah mereka berhenti menangis dan receptionist hotel berjanji membantu mereka menghubungi kedubes China dan mengurus asuransi.

Saya lanjut chatting dengan Hang dan memberitahu kejadian penjambretan itu. “Some people got robbed in my hotel!” Saya masih sedikit shock dan takut untuk jalan keluar apalagi sendirian. Penjambret itu sangat berani karena menjalankan aksinya di siang bolong dan di tengah-tengah kawasan yang sangat ramai. Beberapa saat kemudian jawaban Hang masuk dan menenangkan saya.

“OMG! Be careful Yud!”
“It’s quite normal in HCM to meet robbers because it’s metropolitan zones so be careful”
“People there are nice but the city is not that safe especially for foreigners”
“It’s not too dangerous but you gotta be careful”
“Think as if you are in Paris”

Kalimat terakhir Hang bikin saya sadar kalau kejahatan itu bisa terjadi dimana aja terutama di kota kota metropolitan. Saya pernah hampir kena copet di Paris. Beberapa teman saya bahkan kehilangan barang berharga saat naik metro di Paris. Tidak ada bedanya HCM dan Paris. Tidak ada bedanya Eropa dan South East Asia. Kita cuma perlu lebih berhati-hati dan waspada dan yang terpenting jangan memancing perhatian penjahat.

Berlaku dan pernampilan lah sewajarnya saja. Sebaiknya simpan barang berharga di loker hotel atau titipkan receptionist. Pakai backpack dan hindari tas jinjing karena rawan di jambret. Jangan simpan uang di dompet saku belakang. Saya selalu menyimpan uang di tas pinggang kecil di balik baju. Carilah teman jika ingin bepergian hingga larut malam atau ke tempat-tempat sepi. Terakhir banyak-banyak lah berdoa supaya kita selalu diberi lindungan keselamatan oleh Tuhan!


Tidak ada tempat yang benar-benar aman dari tindak kejahatan di muka bumi ini. Kejahatan bahkan bisa terjadi di depan rumah kita sendiri jadi jangan takut untuk tetap jalan-jalan yaa! You just have to travel smart and always be safe. Knock down your fear cause fear will takes you nowhere! J

Kamis, 12 November 2015

Perjuangan Masuk Kamboja

Ta Prohm, Angkor Wat, Cambodia

Banyak hal yang berjalan diluar rencana sejak awal akan masuk negara Kamboja. Well, lumrah sih dan justru itu yang membuat perjalanan makin seru dan banyak cerita.

Saya harusnya naik direct bus Bangkok-Siam Reap dari operator Transportation Co Ltd. Bus ini government bus dan tiketnya harus beli di terminal Mochit. Harganya lebih mahal  (750 Baht) dibandingkan harga minivan dari agen-agen travel di Khaosan Road tapi katanya kalau naik bus ini sudah “pasti jelas”. Maksudnya “pasti jelas” apa? Bingung juga awalnya sampai saya merasakannya sendiri.

Saya bela-belain ke terminal bus Mochit sehari sebelum keberangkatan. Banyak yang bilang beli pas hari H keberangkatan aja karena pasti dapat tapi entah kenapa instict saya bilang lebih baik booking in advance. Well, ke terminal Mochit itu perjuangan banget loh! Saya harus naik BTS (Bangkok Sky Train) Sukhumvit Line sampai terminal paling ujung Mochit harga tiketnya 42 Baht terus dilanjut naik taksi 40 Baht. Total 82 Baht one way! Waktu tempuh antara 30-45 menit tergantung trafic. Lumayan kan?

Nampaknya semesta tidak mendukung semua perjuangan saya karena setelah jauh jauh ke terminal Mochit tapi tiketnya SOLD OUT dong! Belum lagi dapat bonus kena marah sama petugas loket tiket karena teteup nggak mau pergi dan maksa-maksa dicariin tiket. Akhirnya ditawarin kursi tapi cuma sampe perbatasan aja terus dilanjut taksi. Lah apa-apaan tadi katanya sold out? Saya nggak mau dan melengos pergi. Eh tambah dimaki-maki. Dih galak bener! Akhirnya pasrah pulang dan beli tiket minivan dari agen travel di Khaosan Road yang harganya 450 Baht.

Penderitaan Mochit belum berakhir sampai disitu. Saat perjalanan balik saya ambil taksi lagi buat ke terminal BTS (Bangkok Sky Train). Jaraknya deket sih sekitar 10 menit naik taksi tapi karena lewatnya high way gitu jadi susah kalau mau jalan kaki. Pas bilang ke supir taksinya mau minta diantar ke stasiun BTS, dia pasang muka heran gitu. “What just BTS terminal? That’s so near. I have to wait one hour in  line to get passanger. And just BTS terminal? Seriously?” Jadi taksi-taksi di Mochit ini sistemnya antrian. Kalau ada pelanggan datang maka taksi yang paling depan yang berangkat. Saya jadi nggak enak hati di bilangin begitu sama supir taksi dan sepanjang jalan dia ketawa-tawa sendiri. Serem aja! Akhirnya saya nggak jadi nawar dan ijinin doi pake argometer. Jatuhnya lebih mahal jadi 60 Baht tapi yasudahlah!

Keesokan harinya saya harusnya dijemput jam 7 pagi tapi molor sampe jam setengah 8. Minivan ini bentuknya persis mobil Elf kalau di Indonesia. Satu minivan diisi oleh tujuh orang penumpang. Semua berjalan baik-baik saja sampai pukul 11 siang kami tiba di perbatasan Thailand, Aranyaprathet. Semua penumpang disuruh keluar beserta semua barang bawaan. Ada seorang laki-laki yang selanjutnya menggiring kita ke sebuah bangunan putih untuk mengurus visa tapi kok masuknya lewat pintu belakang ya? Karena tidak perlu Visa saya disuruh menunggu diluar bareng pasutri Jerman yang udah ngurus visa online. Dari hasil ngobrol-ngobrol saya baru tahu kalau harga tiket minivan mereka lebih murah. 600 Baht round trip Bangkok-Siem Reap. Rugi 150 Baht deh!

Setelah setengah jam nunggu saya disuruh jalan duluan ke border. Akhirnya kita bertiga jalan ke border dan alamaaaaaak antrinya panjang betul. Setelah nunggu setengah jam baru ada yang bilangin kalau kita salah antrian. Counter untuk foreign passpor ada di dalam gedung dan tidak ada antrian. Ternyata tadi kita antri di counter untuk passpor thailand. Saya panik karena departure card sempat hilang tapi akhirnya ketemu setelah bongkar dompet. Huff! Ada ada aja!

Beres di border Thailand lanjut jalan kaki ke border Kamboja di Poipet. Border ini rame banget beneran deh! Selain banyak kendaraan herannya banyak juga pedagang yang seliweran. Kaget juga karena bangunan imigrasi di Poipet ini sangat sederhana. Lantainya semen terus dinding sama atapnya dari seng alumunium. Kebayang nggak panasnya kayak apa di dalem sini! Kita bertiga nongkrong nungguin yang lain di bawah kipas angin tapi keringet tetep ngucur. Satu setegah jam kemudian karena udah nggak tahan panas akhirnya kita antri imigrasi duluan. Antrinya lumayan panjang tapi prosesnya lancar kok!

Setelah 2 jam lebih steaming akhirnya rombongan kita lengkap juga dan siap melanjutkan perjalanan Poipet-Siam Reap. Kelihatan jelas pada bete karena proses pengurusan Visa yang lama. Dari border kita diangkut naik free shuttle bus ke parkiran bus. Parkiran bus ini bentuknya ternyata mirip terminal. Ada money charger, tempat makan, counter tiket taksi sama bus juga ada. Nah disini mulai terjadi ketidakjelasan dari agen travel.

Saya pikir perjalanan akan dilanjutkan dengan minivan yang sama dari Thailand tadi namun ternyata tidak. Para penumpang minivan ternyata dipindah dan disatukan ke dalam satu bus besar. Parahnya jadwal keberangkatan bus ini tidak pasti karena bus baru akan berangkat kalau semua kursi sudah terisi penuh penumpang. Pihak tour agen bilang worst case nya kita harus nunggu sampai dua jam lagi baru berangkat. Yakali another two hours?! Mau marah rasanya tapi ya gimana udah bayar lunas dan percuma juga marah.

Dikala emosi labil gini eh bisa-bisanya pihak tour agen jualan jasa taksi. Dia bilang kalau taksi bisa berangkat sekarang dan nggak perlu nunggu. Terus kalau naik taksi cuma 5 jam aja sedangkan kalau naik bus bisa sampe 7 jam. Jelas jualan doi nggak laku karena pada ogah rugi udah bayar full tiket ke Siem Reap. Mending sabar dan bertahan nunggu 2 jam sambil ngelurusin kaki. Setelah jualan jasa taksi gagal entah kenapa kita tiba-tiba dipanggil masuk bus. Nggak nyampe 15 menit bus udah penuh dan siap berangkat ke Siem Reap. Dalem bus saya jadi nggosip ke temen sebelah kalau tadi itu mungkin scam biar pada milih naik taksi aja daripada lanjut pakai bus.

Jam setengah 8 malam akhirnya saya tiba di Siem Reap. Tidak ada terminal bus sentral di Siem Reap. Setiap operator bus punya depot pemberhentian bus masing-masing. I have no idea where I am. Tempat ini kayak lapangan yang dipagari seng tinggi dan ada beberapa bus parkir disitu. Lokasinya lumayan jauh dari jalan raya. Begitu turun dari bus langsung dikerubutin supir tuk-tuk. Bingung harus ngapain dulu? Harusnya ada free pick up service dari hostel tapi ini lokasinya kok kayak in the middle of nowhere gini yaa. Berhubung udah males ribet cari pinjeman telefon atau beli kartu buat telefon hostel jadinya naik tuk tuk deh.

Pengalaman pertama naik tuk-tuk ternyata lumayan bikin jantung berdebar. Tuk-tuk itu sepeda motor yang belakangnya disambung ke sejenis gerobak. Nah yang bikin serem itu sambungannya yang nggak stabil jadi gerobaknya masih bisa goyang kiri kanan waktu belok. Supir tuk tuk nya juga bawanya ngebut nggak pake rem jadi pas lewat polisi tidur terus belok eh gerobaknya miring dong. Adrenalin rush banget! Sebenernya ini sangat tergantung dari kondisi tuk tuk dan supirnya sih karena saya pernah naik tuk tuk yang stabil karena motornya laki yang gede gitu sama gerobaknya kokoh. Ngeri-ngeri sedap dan yang penting dapet pengalaman baru walaupun agak bahaya juga! Saya harus bayar 4 USD untuk sekitar 20 menit naik tuk-tuk dari tempat bus tadi ke hostel. Mahal sih tapi nggak ada pilihan lain.

Sebenernya waktu tempuh normal kalau pakai government bus adalah 8-9 jam perjalanan dari Bangkok-Siem Reap. Bandingkan dengan saya yang harus menempuh waktu lebih dari 12 jam perjalanan ditambah emosi. Memang ada harga ada kualitas yaah!

Kamis, 05 November 2015

Balada Naik Sleeping Bus

Sleeping Bus The Sinh Tourist
Alasan kenapa saya ngotot melakukan perjalanan Indochina lewat jalur darat adalah pengen nyobain naik sleeping bus. Keinginan muncul setelah membaca beberapa blog yang masukin aktivitas ini dalam daftar aktivitas yang patut dicoba saat traveling Indochina. Saya jadi penasaran dan akhirnya kesampean nyobain naik sleeping bus sampai 3 kali.

Angkutan sleeping bus ini banyak beroperasi di negara Vietnam dan dari Kamboja yang akan masuk Vietnam. Ukuran sleeping bus ini sebenarnya sama seperti bus biasa saja, tidak lebih tinggi atau besar. Perbedaan ada pada bentuk kursi yang tidak bersudut 90 derajat melainkan membentuk sudut hampir 180 derajat. Ada dua tingkat kursi yaitu atas dan bawah.

Ilustrasinya adalah mirip bunk-bed hostel namun bedanya yang disusun ini kursi dan ada didalam bus. Kalau mau naik ke kursi atas ya harus manjat dan penumpang yang ada dibawah harus rela dikasih pemandangan kaki. Aturan di sleeping bus kita nggak boleh pakai alas kaki jadi waktu pertama masuk udah dikasih kresek buat tempat alas kaki kayak mau masuk masjid aja!

Saya dapat banyak pengalaman seru ketika 3 kali naik sleeping bus di daratan Indochina
1.       Siem Reap – Pnom Penh – Ho Chi Minh
Awalnya saya berencana naik sleeping bus dari operator yang cukup populer bernama Giant Ibis ke Pnom Penh lalu di sambung operator Khai Nam dari Pnom Penh ke Ho Chi Minh. Sialnya saya kehabisan tiket Giant Ibis dan terpaksa cari alternatif lain.
Setelah kebingungan dan cari informasi dari staff hostel maka saya dapat rekomendasi naik bus Virak Buntham. Saya beli tiket terusan Siem Reap – Ho Chi Minh seharga kurang lebih 20 dollar. Saya lupa harga pastinya namun harga berbeda tergantung waktu keberangkatan. Saya beli di travel agent dekat hostel dan mereka bilang saya akan dijemput langsung ke hostel.
Sore hari saya sudah mejeng depan hostel ketika ada Tuk-Tuk berhenti dan teriak-teriak “VIRAK BUNTHAM! VIRAK  BUNTHAM!” Lah saya pikir langsung dijemput pakai bus ternyata harus naik Tuk-Tuk lagi. Saya pun sukses oleng kekanan dan kiri karena supir Tuk-Tuk ngebut maksimal dijalan yang nggak ada mulus-mulusnya.
Bus Virak Buntham ini lumayan bagus. Ada 4 kolom kursi yaitu dua dikanan dan dua dikiri yang dipisahkan oleh gang senggol saking kecilnya. Kursinya berlapis kulit cokelat yang terlihat vintage. Saya mendapat tempat duduk dibagian atas. HORE!!
Selain turis ternyata banyak juga orang lokal yang ikutan naik ke bus. Darimana saya tahu mereka orang lokal? Pertama karena mukanya, kedua karena mereka bisa ngobrol sama kondektur yang nunjuk-nunjukin posisi tempat duduk.
Sepanjang perjalanan Siem Reap – Pnom Penh saya habiskan dengan tidur. Namun tiba-tiba saya terbangun ketika bus berhenti dan serombongan orang turun dari bus. Si kondektur teriak “TOILET! TOILET! TOILET!” Oh ternyata cuma berhenti di pom bensin pikir saya. Saya pun balik badan menghadap kaca untuk melanjutkan tidur ketika melihat pemandangan yang membuat mata terbuka lebar saking kagetnya.
Belasan penumpang lagi buang air dengan asiknya di alam terbuka tak jauh dari sisi bus. Ternyata bus tidak sedang berhenti di pom bensin melainkan ada di tengah jalan sepi yang sejauh mata memandang hanya semak semak dan lahan tandus. Kok mereka nggak malu yaa ditonton bule-bule yang sama melongonya seperti saya.
Saya balik badan membelakangi kaca dan teman disebelah saya, orang Jepang yang sudah sebulan traveling di Kamboja langsung ketawa sambil bilang “Welcome to Cambodia”. Saya balik tersenyum.
Perjalanan berlanjut setelah insiden toilet darurat itu. Saya tertidur lagi dan baru tiba di Pnom Penh setelah lewat tengah malam. Sedang ngantuk-ngantuknya kami ditransfer ke bus lain yang lebih kecil tujuan Ho Chi Minh. Sisa perjalanan berjalan dengan lancar kecuali saya harus tahan pipis selama 10 jam. Akhirnya saya bisa pipis di kantor imigrasi perbatasan Kamboja-Vietnam. Arrrgh leganya!

2.       Ho Chi Minh – Mui Ne (PP)

Perjalanan kedua dan ketiga saya naik sleeping bus adalah dari Ho Chi Minh ke Mui Ne. Saya booking online dari operator tur terkenal yaitu The Sinh Tourist. Saya tahu dari baca review bahwa mereka punya armada sleeping bus yang bagus.

Pagi-pagi sekali saya sudah nongkrong dikantor The Sinh nungguin bus datang. Saya senang sekali karena sleeping bus punya The Sinh ini sesuai ekspektasi. Bus lebih besar dan hanya ada 3 kolom kursi yang masing-masing dipisahkan oleh gang. Saya merasa lebih leluasa dan punya privasi karena tempat duduknya sendiri-sendiri.

Oia satu lagi yang terpenting adalah sleeping bus ini punya toilet sehingga ga harus nahan nahan pipis lagi. Walaupun sleeping bus The Sinh ini bagus namun saya kecewa terhadap pelayanan karyawan yang jutek jutek banget. Saya tanya informasi jadwal malah dijawab dengan ketus suruh liat sendiri di brosur. Duh mbak lagi PMS yaa! Belum lagi bahasa Inggris mereka yang kurang lancar bikin bingung.

Jarak Ho Chi Minh ke Mui Ne sebenarnya tidak jauh yaitu hanya sekitar 180 KM tapi dibutuhkan waktu 5 jam untuk mencapainya! Sleeping bus ini jalannya lambat banget kayak keong yang semakin membuat kita nyaman dan ngantuk. Lambatnya kendaraan di Vietnam ini karena ada peraturan batas maksimal kecepatan hanya 40 KM/jam walaupun jalanan relatif kosong.

Saya pribadi sih menikmati keseloan sleeping bus ini yang melaju lebih lambat daripada kalau saya naik motor. Beberapa kali bus berhenti di tempat peristirahatan untuk ke toilet walaupun udah ada toilet dalam dan mengisi perut. Haduh haduh udah jalannya lambat masih ada berhentinya pula! Ini adalah keseloan level dewa.

Perjalanan pergi pulang ke Mui Ne relatif lancar dan tidak ada insiden yang berarti. Saya kebanyakan tidur atau baca buku. Hebatnya saya biasanya pusing kalau baca buku diatas kendaraan yang berjalan tapi tidak berlaku dalam sleeping bus ini mungkin karena jalannya yang lambat jadi minim goncangan. Kalau begini saya jadi ketagihan naik sleeping bus.

After all I can say that sleeping bus is worth to try! But do not forget to bring one thing before you ride it. Bring you PATIENCE and enjoy the slowliness J

Sabtu, 31 Oktober 2015

Photo Story : Grand Palace Thailand

Awalnya saya ragu-ragu mau mengunjungi Grand Palace atau tidak waktu ke Bangkok. Selain tiketnya terbilang mahal juga tempat itu selalu penuh sesak dengan pengunjung yang membuat saya malas. Namun karena penasaran sama arsitekturnya akhirnya kesana juga dan benar ternyata bangunan istana ini indah dan sangat detail.

Penasaran seperti apa keindahan Grand Palace di Bangkok, Thailand. Mari kita lihat dalam photo story berikut . . .


















Selasa, 27 Oktober 2015

Sensasi Menginap Di Dalam Kapsul

Kapsul Hotel Di HCM Vietnam

Akomodasi ternyata bisa memberikan pengalaman tersendiri saat traveling. Oleh karena itu akomodasi dengan konsep yang unik-unik pasti lebih diminati. Misalnya akomodasi bawah tanah di Cappadocia, akomodasi dalam yurt – tenda khas Mongolia, atau portable hotel yang bisa dipindah-pindah kemanapun kita mau. Nah, waktu di Vietnam saya nyoba nginep  di dalam kapsul hotel!

Namanya Hongkong Kaiteki Hotel dan lokasinya strategis ada dijalan Bui Vien, masih dekat kok sama jalan Pham Ngu Lao tempat para backpackers tumplek jadi satu. Sebenarnya namanya doang yang hotel tapi bentukannya mirip hostel cuma dengan privasi yang lebih tinggi. Kalau di hostel kita tidur di bunk bed terbuka nah kalau disini kita tidur di dalam kapsul yang tetap ditumpuk mirip bunk bed.

Tempat tidur kapsul ini bentuknya balok dengan ukuran kira-kira 2m x 0.5m x 0.5m. Bentuknya mirip kayak peti mati cuma nggak seserem itu kok! Pada salah satu sisi ada lubang tempat kita masuk yang ditutupi tirai. Tirai fungsinya mirip pintu yang bisa dinaik-turunkan. Oia ada dua pilihan jenis tempat tidur kapsul, pertama yang lubang pintu ada disisi 2m dan kedua yang lubang pintu ada disisi 0.5m.

Jangan takut bakal pengap kalau tidur di dalam kapsul yang tertutup tirai. Di dalam tempat tidur kapsul balok ini dilengkapi fasilitas AC yang bisa diatur sendiri suhunya (bukan AC central). Selain itu ada TV, lampu, colokan charger, colokan USB, bahkan meja kecil yang menempel disisi tempat tidur kapsul balok ini. Akhirnya setelah berminggu-minggu saya bisa nonton TV lagi! Jangan takut ada banyak channel  internasional kok! Seru kan!

Bagaimana dengan fasilitas lainnya? Kita bakal dapat loker pribadi yang aman banget karena pintunya harus dibuka pakai kode angka. Lumayan peningkatan dari loker hostel yang biasanya harus pakai gembok manual pribadi. Untuk toilet meskipun masih toilet bersama tapi fasilitasnya udah standar hotel. Selain itu tempat mandinya banyak jadi nggak perlu ngantri.

Masalah kebersihan hotel ini juga oke. Kita harus ganti alas kaki pribadi dengan alas kaki bersih yang disediakan hotel setiap mau masuk ke area kamar. Kamar mandi dan area kamar juga bersih dan wangi.  Oia satu lagi yang pastinya nggak ada di hostel adalah lift. Yak kamar saya dilantai 4 bakal gempor kalau harus naik tangga. Saya pernah di Latvia dapat hostel murah tapi dilantai 5 dan harus gempor naik turun tangga tiap kali mau jalan keluar bikin mager abis. 

Secara keseluruhan kapsul ini layak kok buat dicoba dan menambah pengalaman namun ada satu kekurangannya. Staff hostel disini tidak helpful sama sekali jadi siap-siap gondok kalau kalian tanya seringnya dijawab lihat saja brosur!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...