Tampilkan postingan dengan label vietnam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vietnam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2015

5 Kuliner Wajib Saat Berkunjung ke Vietnam

Penjaja makanan pinggir jalan di Ho Chi Minh
Pengalaman pertama kali saya mencoba masakan Vietnam adalah saat menjadi exchange student di Lithuania. Hang, teman asal Vietnam, adalah orang yang pertama memperkenalkan saya pada Vietnamese spring roll. Walaupun dia mengaku tidak jago masak tapi lumpia khas Vietnam buatannya sukses membuat saya ketagihan.

            Hang juga pernah masak Pho Noddle yang juga enak. Lagi-lagi dia mengaku kalau rasa Pho Noddle buatannya jauh daripada rasa asli masakan ini. Hang mengaku susah menemukan bumbu Pho Noddle di Lithuania jadi hanya pakai bumbu seadanya.

            Waktu traveling ke Ceko saya menginap dirumah Ayah Hang dan keluarganya yang sudah lama menetap disana. Saat makan malam lagi lagi saya disuguhi berbagai macam masakan Vietnam yang rasanya nggak usah ditanya lagi sangat mantap. Saya lupa apa saja namanya namun juaranya adalah beef salad.

            Saat saya dan beberapa teman traveling ke Paris, kami sempat jajan Pho Noddle di tempat makan yang sangat rame. Saya cerita ke Hang dan dia malah marah dan bilang kalau mau nyoba Pho Noddle yang “asli” harus coba di negara asalnya dong!

Maka saat Indochina trip kemarin saya bela-belain mampir Vietnam demi menuntaskan rasa penasaran akan rasa Pho Noddle yang “asli”. Selain itu saya juga kangen spring roll seperti dibuatkan Hang dulu.

Ternyata selain Pho Noddle dan Spring Roll saya kebablasan nyobain kuliner Vietnam dan banyak makan ini dan itu. Berikut 5 kuliner yang wajib dan kudu banget harus dicicipi saat kalian jalan-jalan ke Vietnam khususnya Ho Chi Minh : 

1.    Vietnamese Spring Roll
Vietnamese Shrimp Roll :9
Ini makanan yang pertama saya cari saat baru tiba di Vietnam. Saya sudah rindu berat dan nyidam makan spring roll lagi sejak lama. Sudah sekitar satu tahun lalu saya makan spring roll buatan Hang di Lithuania namun kali ini saya akan langsung mencicipi di negara aslinya.
Vietnamese spring roll ini berbuat dari rice paper yang digulung dan bentuknya persis seperti lumpia biasa. Isinya bervariasi tapi yang umum adalah mie bihun, selada, udang, sayuran, dan daun-daunan kayak mint atau kemangi yang bikin rasanya seger pedas semriwing gimana gitu.

Cara makan vietnamese spring roll adalah dengan dicocol saus pedas manis. Saya nggak tau campuran sausnya apa tapi ada banyak campuran bumbu. Vietnamese spring roll ini makanan sehat karena tidak digoreng.

Oia satu yang saya suka adalah spring roll ini sangat fotogenik karen rice paper yang digunakan untuk membungkus itu transparan jadi kita bisa liat isinya yang warna warni orange-merah-ijo-putih.

2.    Pho Noodles
Pho Noodles President :9
Pho Noodles mungkin merupakan makanan yang paling dikenal dari Vietnam. Pho Noodles adalah mie kuah dengan topping beef bedanya mie terbuat dari beras dengan bentuk pipih lebar mirip kwiteau. Rasa mienya lembut dan makannya ditambah toge, irisan cabe, dan lagi lagi dedaunan yang rasanya pedes mint gitu.

Tempat makan Pho Noodles yang terkenal di Ho Chi Minh adalah Pho Noodles 2000 atau Pho Noodles President. Lokasi Pho Noodles 2000 ini deket sama Ben Thanh Market. Saya sempat nggak nemu tempat ini karena ternyata ada dilantai dua gedung yang bawahnya Coffee Bean and Tea Leaf.

Pho Noodles 2000 ini bakal rame banget kalau jam makan siang jadi kalau nggak mau nunggu lama hindari jam-jam tersebut. Harga Pho Noodles disini relatif agak mahal dibanding yang dipasar. Pho Noodles 2000 jadi terkenal karena pernah dikunjungi president Bill Clinton.

Oia kalau dimeja disediain tisu basah jangan dipakai yaa guys karena itu nggak gratis alias harus bayar! Sialnya saya karena kurang baca jadi kena jebakan ini dan harus bayar L

3.    Rice Paper Taco
Nama Vietnamnya Banh Trang Nuong karena ribet mari kita sebut saja rice paper taco. Ya bentuknya memang mirip taco khas Meksiko itu. Awalnya saya tidak terlalu menaruh perhatian pada makanan yang satu ini sampai saya sadar bahwa banyak yang jual makanan ini di trotoar jalan. Saya jadi penasaran mau coba.

Seperti namanya, makanan ini terbuat dari lembaran rice paper yang diatasnya dikasih telur puyuh, bubuk merah mirip cabe, sama bubuk-bubuk lain yang saya nggak tahu apaan. Cara masaknya adalah dengan dibakar diatas arang.

Bentuknya mirip pizza dan rasanya unik. Jujur saya tidak terlalu favorite tapi yang penting sudah mencoba. Oia rice paper taco ini ternyata jajanan anak SD. Pantesan saya ketemu penjualnya lagi ngemper pake dingklik di depan sekolahan.

4.    Vietnamese Baguette Sandwich
Vietnamese Baguette Sandwich atan Banh Mi ini makanan favorite saya buat sarapan. Sangat mudah menemukan penjual Banh Mi karena nggak usah dicari dan tinggal jalan aja di trotoar pasti bakal dipanggil-panggil.

Sebenarnya Banh Mi nggak terlalu otentik Vietnam sih karena makanan ini adalah hasil pengaruh budaya barat lebih tepatnya Perancis. Vietnam dijajah Perancis lebih dari 1 abad dan budaya makan roti baguette masih tetap tinggal. Saya jadi heran sama Indonesia yang dijajah lebih lama oleh Belanda 3,5 abad tapi kita kok nggak ada budaya makan roti dan jadi rice holic.

Banh Mi ini sebenarnya kayak sandwich biasa sih kayak makan Subway gitu. Banh Mi dibuat dari french roll bun yang dibelah dan tengahnya diisi  daun ketumbar atau cilantro, potongan timun tipis, potongan wortel, daging yang biasanya babi.

5.    Ice Coffee
Vietnamese Coffee
Saya bukan fans berat kopi tapi berusaha selalu mencoba jika ada kopi khas suatu daerah. Vietnam punya es kopi hitam yang terkenal. Awalnya saya underestimate karena saya pikir rasanya bakal biasa aja. Saya tidak bisa terlalu membedakan rasa-rasa kopi namun jujur es kopi Vietnam itu enak.

Kopi Vietnam rasanya sangat kuat walaupun sudah dicampur susu namun tetap rasa kopinya akan sangat dominan. Saya tidak dapat mendefinisikan rasa yang tepat tapi secara garis besar es kopi Vietnam seger banget.

Penjual es kopi hitam ada dimana-mana kok. Biasanya penjualnya paketan sama jualan Banh Mi. Oia yang unik lagi kalau jajan di Vietnam itu makannya dipinggir jalan pake meja dan kursi pendek ukuran anak TK gitu. Seru seru seru! Selamat makan dan mencoba yaaaa!

Senin, 16 November 2015

Teman Hostel Kena Jambret

HCM Street, Vietnam
Saya baru saja tiba di sebuah kapsul hotel di jalan Bui Vien, Ho Chi Minh. Lokasi hotel ini tidak jauh dari jalan utama kawasan backpacker yaitu jalan Pham Ngu Lao. Jam menunjukkan pukul 11.30 siang waktu setempat. Matahari bersinar terik sekali siang itu di Ho Chi Minh. Saya sukses basah kuyup oleh keringat setelah jalan beberapa blok dari terminal bus ke hotel di tambah nyasar beberapa kali. Setelah tanya sana-sini dan menolak belasan tawaran dari tukang ojeg akhirnya ketemu juga nih hotel. Kesan pertama di Ho Chi Minh adalah kota ini rame banget sama motor.

Saya datang terlalu awal dan harus menunggu di lobby hotel untuk check in pukul 14.00 siang. Masih tersisa waktu menunggu 2.5 jam lagi. Beruntung ada AC di lobby jadi numpang ngadem dulu sekalian Wi-Fi an. Saya langsung kirim kabar via WA ke Hang. Dia adalah teman asli Vietnam tapi tinggalnya di Hanoi, Vietnam bagian utara. Dia excited banget tau saya udah sampe Vietnam dan kasih banyak rekomendasi tempat-tempat menarik. Saya asik chatting sambil minum es kopi Vietnam yang rasanya sueegeer banget tiba-tiba ada tiga cewek remaja masuk lobby sambil nangis bombay.

Ketiga cewek ini tampangnya oriental dan terlihat masih ABG. Cewek 1 terluka dibagian lutut dan sikunya. Dari bekas lukanya terlihat seperti luka akibat terjatuh di jalan beraspal. Dia dipapah oleh kedua teman ceweknya sambil terus nangis bombay. Cewek 2 dan 3 masuk hotel sambil terus memaki-maki penjambret yang baru saja mengambil tas mereka. Sontak semua orang di lobby langsung mengalihkan pandangan kepada mereka. Ada dua receptionist hotel saat itu dan beberapa orang tamu di lobby termasuk saya. Saya cuma diam melongo. Perasaan saya waktu itu antara kaget, tidak percaya, dan sedikit takut.

Cewek 2 dan 3 kemudian secara bergantian bercerita apa yang baru saja mereka alami. Katanya mereka baru saja kena jambret di jalan dekat hotel. Penjambretnya naik motor dan langsung menarik tas cewek 1 sampai dia jatuh tersungkur ke aspal. Semua barang berharga dia taruh di tas jinjing itu. Ada iPhone dan dompet yang isinya uang dan kartu kredit tapi untungnya passport mereka dititipkan di hotel. Parahnya barang berharga mereka bertiga berada di dalam satu tas jinjing yang hilang itu. Yasalam! Mereka bertiga mendadak histeris dan akhirnya pecahlah tangis cewek 2 dan 3 sampai suaranya memenuhi seisi lobby.

Setelah beberapa saat cewek 2 minta lapor polisi tapi seorang receptionist hotel bilang kalau itu bakal sia-sia dan memakan waktu. Mereka tidak punya informasi penting apapun seperti plat nomor atau sketsa wajah penjambret. Cewek 3 mengajukan opsi lain untuk menelepon kedubes China dan meminta pertolongan dari mereka. Cewek 1 teriak kesakitan ketika lukanya dibersihkan oleh salah seorang receptionist. Oooh dramatis sekali suasana lobby siang ini! Saya merasa iba tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Keadaan sedikit mereda setelah mereka berhenti menangis dan receptionist hotel berjanji membantu mereka menghubungi kedubes China dan mengurus asuransi.

Saya lanjut chatting dengan Hang dan memberitahu kejadian penjambretan itu. “Some people got robbed in my hotel!” Saya masih sedikit shock dan takut untuk jalan keluar apalagi sendirian. Penjambret itu sangat berani karena menjalankan aksinya di siang bolong dan di tengah-tengah kawasan yang sangat ramai. Beberapa saat kemudian jawaban Hang masuk dan menenangkan saya.

“OMG! Be careful Yud!”
“It’s quite normal in HCM to meet robbers because it’s metropolitan zones so be careful”
“People there are nice but the city is not that safe especially for foreigners”
“It’s not too dangerous but you gotta be careful”
“Think as if you are in Paris”

Kalimat terakhir Hang bikin saya sadar kalau kejahatan itu bisa terjadi dimana aja terutama di kota kota metropolitan. Saya pernah hampir kena copet di Paris. Beberapa teman saya bahkan kehilangan barang berharga saat naik metro di Paris. Tidak ada bedanya HCM dan Paris. Tidak ada bedanya Eropa dan South East Asia. Kita cuma perlu lebih berhati-hati dan waspada dan yang terpenting jangan memancing perhatian penjahat.

Berlaku dan pernampilan lah sewajarnya saja. Sebaiknya simpan barang berharga di loker hotel atau titipkan receptionist. Pakai backpack dan hindari tas jinjing karena rawan di jambret. Jangan simpan uang di dompet saku belakang. Saya selalu menyimpan uang di tas pinggang kecil di balik baju. Carilah teman jika ingin bepergian hingga larut malam atau ke tempat-tempat sepi. Terakhir banyak-banyak lah berdoa supaya kita selalu diberi lindungan keselamatan oleh Tuhan!


Tidak ada tempat yang benar-benar aman dari tindak kejahatan di muka bumi ini. Kejahatan bahkan bisa terjadi di depan rumah kita sendiri jadi jangan takut untuk tetap jalan-jalan yaa! You just have to travel smart and always be safe. Knock down your fear cause fear will takes you nowhere! J

Kamis, 05 November 2015

Balada Naik Sleeping Bus

Sleeping Bus The Sinh Tourist
Alasan kenapa saya ngotot melakukan perjalanan Indochina lewat jalur darat adalah pengen nyobain naik sleeping bus. Keinginan muncul setelah membaca beberapa blog yang masukin aktivitas ini dalam daftar aktivitas yang patut dicoba saat traveling Indochina. Saya jadi penasaran dan akhirnya kesampean nyobain naik sleeping bus sampai 3 kali.

Angkutan sleeping bus ini banyak beroperasi di negara Vietnam dan dari Kamboja yang akan masuk Vietnam. Ukuran sleeping bus ini sebenarnya sama seperti bus biasa saja, tidak lebih tinggi atau besar. Perbedaan ada pada bentuk kursi yang tidak bersudut 90 derajat melainkan membentuk sudut hampir 180 derajat. Ada dua tingkat kursi yaitu atas dan bawah.

Ilustrasinya adalah mirip bunk-bed hostel namun bedanya yang disusun ini kursi dan ada didalam bus. Kalau mau naik ke kursi atas ya harus manjat dan penumpang yang ada dibawah harus rela dikasih pemandangan kaki. Aturan di sleeping bus kita nggak boleh pakai alas kaki jadi waktu pertama masuk udah dikasih kresek buat tempat alas kaki kayak mau masuk masjid aja!

Saya dapat banyak pengalaman seru ketika 3 kali naik sleeping bus di daratan Indochina
1.       Siem Reap – Pnom Penh – Ho Chi Minh
Awalnya saya berencana naik sleeping bus dari operator yang cukup populer bernama Giant Ibis ke Pnom Penh lalu di sambung operator Khai Nam dari Pnom Penh ke Ho Chi Minh. Sialnya saya kehabisan tiket Giant Ibis dan terpaksa cari alternatif lain.
Setelah kebingungan dan cari informasi dari staff hostel maka saya dapat rekomendasi naik bus Virak Buntham. Saya beli tiket terusan Siem Reap – Ho Chi Minh seharga kurang lebih 20 dollar. Saya lupa harga pastinya namun harga berbeda tergantung waktu keberangkatan. Saya beli di travel agent dekat hostel dan mereka bilang saya akan dijemput langsung ke hostel.
Sore hari saya sudah mejeng depan hostel ketika ada Tuk-Tuk berhenti dan teriak-teriak “VIRAK BUNTHAM! VIRAK  BUNTHAM!” Lah saya pikir langsung dijemput pakai bus ternyata harus naik Tuk-Tuk lagi. Saya pun sukses oleng kekanan dan kiri karena supir Tuk-Tuk ngebut maksimal dijalan yang nggak ada mulus-mulusnya.
Bus Virak Buntham ini lumayan bagus. Ada 4 kolom kursi yaitu dua dikanan dan dua dikiri yang dipisahkan oleh gang senggol saking kecilnya. Kursinya berlapis kulit cokelat yang terlihat vintage. Saya mendapat tempat duduk dibagian atas. HORE!!
Selain turis ternyata banyak juga orang lokal yang ikutan naik ke bus. Darimana saya tahu mereka orang lokal? Pertama karena mukanya, kedua karena mereka bisa ngobrol sama kondektur yang nunjuk-nunjukin posisi tempat duduk.
Sepanjang perjalanan Siem Reap – Pnom Penh saya habiskan dengan tidur. Namun tiba-tiba saya terbangun ketika bus berhenti dan serombongan orang turun dari bus. Si kondektur teriak “TOILET! TOILET! TOILET!” Oh ternyata cuma berhenti di pom bensin pikir saya. Saya pun balik badan menghadap kaca untuk melanjutkan tidur ketika melihat pemandangan yang membuat mata terbuka lebar saking kagetnya.
Belasan penumpang lagi buang air dengan asiknya di alam terbuka tak jauh dari sisi bus. Ternyata bus tidak sedang berhenti di pom bensin melainkan ada di tengah jalan sepi yang sejauh mata memandang hanya semak semak dan lahan tandus. Kok mereka nggak malu yaa ditonton bule-bule yang sama melongonya seperti saya.
Saya balik badan membelakangi kaca dan teman disebelah saya, orang Jepang yang sudah sebulan traveling di Kamboja langsung ketawa sambil bilang “Welcome to Cambodia”. Saya balik tersenyum.
Perjalanan berlanjut setelah insiden toilet darurat itu. Saya tertidur lagi dan baru tiba di Pnom Penh setelah lewat tengah malam. Sedang ngantuk-ngantuknya kami ditransfer ke bus lain yang lebih kecil tujuan Ho Chi Minh. Sisa perjalanan berjalan dengan lancar kecuali saya harus tahan pipis selama 10 jam. Akhirnya saya bisa pipis di kantor imigrasi perbatasan Kamboja-Vietnam. Arrrgh leganya!

2.       Ho Chi Minh – Mui Ne (PP)

Perjalanan kedua dan ketiga saya naik sleeping bus adalah dari Ho Chi Minh ke Mui Ne. Saya booking online dari operator tur terkenal yaitu The Sinh Tourist. Saya tahu dari baca review bahwa mereka punya armada sleeping bus yang bagus.

Pagi-pagi sekali saya sudah nongkrong dikantor The Sinh nungguin bus datang. Saya senang sekali karena sleeping bus punya The Sinh ini sesuai ekspektasi. Bus lebih besar dan hanya ada 3 kolom kursi yang masing-masing dipisahkan oleh gang. Saya merasa lebih leluasa dan punya privasi karena tempat duduknya sendiri-sendiri.

Oia satu lagi yang terpenting adalah sleeping bus ini punya toilet sehingga ga harus nahan nahan pipis lagi. Walaupun sleeping bus The Sinh ini bagus namun saya kecewa terhadap pelayanan karyawan yang jutek jutek banget. Saya tanya informasi jadwal malah dijawab dengan ketus suruh liat sendiri di brosur. Duh mbak lagi PMS yaa! Belum lagi bahasa Inggris mereka yang kurang lancar bikin bingung.

Jarak Ho Chi Minh ke Mui Ne sebenarnya tidak jauh yaitu hanya sekitar 180 KM tapi dibutuhkan waktu 5 jam untuk mencapainya! Sleeping bus ini jalannya lambat banget kayak keong yang semakin membuat kita nyaman dan ngantuk. Lambatnya kendaraan di Vietnam ini karena ada peraturan batas maksimal kecepatan hanya 40 KM/jam walaupun jalanan relatif kosong.

Saya pribadi sih menikmati keseloan sleeping bus ini yang melaju lebih lambat daripada kalau saya naik motor. Beberapa kali bus berhenti di tempat peristirahatan untuk ke toilet walaupun udah ada toilet dalam dan mengisi perut. Haduh haduh udah jalannya lambat masih ada berhentinya pula! Ini adalah keseloan level dewa.

Perjalanan pergi pulang ke Mui Ne relatif lancar dan tidak ada insiden yang berarti. Saya kebanyakan tidur atau baca buku. Hebatnya saya biasanya pusing kalau baca buku diatas kendaraan yang berjalan tapi tidak berlaku dalam sleeping bus ini mungkin karena jalannya yang lambat jadi minim goncangan. Kalau begini saya jadi ketagihan naik sleeping bus.

After all I can say that sleeping bus is worth to try! But do not forget to bring one thing before you ride it. Bring you PATIENCE and enjoy the slowliness J

Selasa, 27 Oktober 2015

Sensasi Menginap Di Dalam Kapsul

Kapsul Hotel Di HCM Vietnam

Akomodasi ternyata bisa memberikan pengalaman tersendiri saat traveling. Oleh karena itu akomodasi dengan konsep yang unik-unik pasti lebih diminati. Misalnya akomodasi bawah tanah di Cappadocia, akomodasi dalam yurt – tenda khas Mongolia, atau portable hotel yang bisa dipindah-pindah kemanapun kita mau. Nah, waktu di Vietnam saya nyoba nginep  di dalam kapsul hotel!

Namanya Hongkong Kaiteki Hotel dan lokasinya strategis ada dijalan Bui Vien, masih dekat kok sama jalan Pham Ngu Lao tempat para backpackers tumplek jadi satu. Sebenarnya namanya doang yang hotel tapi bentukannya mirip hostel cuma dengan privasi yang lebih tinggi. Kalau di hostel kita tidur di bunk bed terbuka nah kalau disini kita tidur di dalam kapsul yang tetap ditumpuk mirip bunk bed.

Tempat tidur kapsul ini bentuknya balok dengan ukuran kira-kira 2m x 0.5m x 0.5m. Bentuknya mirip kayak peti mati cuma nggak seserem itu kok! Pada salah satu sisi ada lubang tempat kita masuk yang ditutupi tirai. Tirai fungsinya mirip pintu yang bisa dinaik-turunkan. Oia ada dua pilihan jenis tempat tidur kapsul, pertama yang lubang pintu ada disisi 2m dan kedua yang lubang pintu ada disisi 0.5m.

Jangan takut bakal pengap kalau tidur di dalam kapsul yang tertutup tirai. Di dalam tempat tidur kapsul balok ini dilengkapi fasilitas AC yang bisa diatur sendiri suhunya (bukan AC central). Selain itu ada TV, lampu, colokan charger, colokan USB, bahkan meja kecil yang menempel disisi tempat tidur kapsul balok ini. Akhirnya setelah berminggu-minggu saya bisa nonton TV lagi! Jangan takut ada banyak channel  internasional kok! Seru kan!

Bagaimana dengan fasilitas lainnya? Kita bakal dapat loker pribadi yang aman banget karena pintunya harus dibuka pakai kode angka. Lumayan peningkatan dari loker hostel yang biasanya harus pakai gembok manual pribadi. Untuk toilet meskipun masih toilet bersama tapi fasilitasnya udah standar hotel. Selain itu tempat mandinya banyak jadi nggak perlu ngantri.

Masalah kebersihan hotel ini juga oke. Kita harus ganti alas kaki pribadi dengan alas kaki bersih yang disediakan hotel setiap mau masuk ke area kamar. Kamar mandi dan area kamar juga bersih dan wangi.  Oia satu lagi yang pastinya nggak ada di hostel adalah lift. Yak kamar saya dilantai 4 bakal gempor kalau harus naik tangga. Saya pernah di Latvia dapat hostel murah tapi dilantai 5 dan harus gempor naik turun tangga tiap kali mau jalan keluar bikin mager abis. 

Secara keseluruhan kapsul ini layak kok buat dicoba dan menambah pengalaman namun ada satu kekurangannya. Staff hostel disini tidak helpful sama sekali jadi siap-siap gondok kalau kalian tanya seringnya dijawab lihat saja brosur!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...