Tampilkan postingan dengan label mediterania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mediterania. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Desember 2015

Tersesat Tengah Malam di Pelabuhan Pireaus Yunani

Salah satu pelabuhan yang disinggahi saat perjalanan menuju Santorini
Tujuan utama saya pergi ke Yunani sebenarnya hanya ingin mengunjungi Santorini. Ada beberapa cara menuju pulau yang terkenal dengan bangunan putih di tepian kaldera itu antara lain dengan pesawat atau ferry. Saya jelas memilih ferry karena lebih murah walaupun harga tiketnya tidak terlalu ramah bagi kantong pelajar. Waktu tempuh Athens-Santorini adalah 8 jam dan kapal ferry akan mampir di beberapa pulau sebelum sampai tujuan akhir Santorini.

Nah, karena lagi low season (bulan Januari) maka jumlah penumpang dan frekuensi penyebrangan dikurangi. Pilihan jadwal penyebrangan jadi terbatas. Jadwal berangkat yang sesuai dengan itinerary saya hanya ada pukul 06.00 pagi dan akan tiba di Santorini pukul 14.00 siang. Sedangkan jadwal pulang (hari Minggu) hanya ada pukul 16.00 sore dan akan tiba di Athens jam 00.00 tengah malam!! Saya stress setengah mati karena tidak ada bayangan sama sekali bagaimana kondisi tengah malam di pelabuhan. Selain itu ini pengalaman solo traveling pertama saya. Parahnya lagi saya tidak ada teman yang dikenal di Athens dan kartu ponsel tidak berfungsi!! I am totally alone. Perut saya sedikit mulas membayangkan apa yang harus dilakukan saat tiba di Athens nanti.

Singkat cerita 3 hari saya jalan-jalan di Santorini berlalu dengan cepat. Hari kepulangan pun tiba. Tepat pukul 16.00 sore saya naik ke kapal ferry Blue Star yang siap mengantar saya kembali ke Athens. Perut saya kembali sedikit mulas teringat akan tiba di Athens tengah malam. Saya mencoba tenang, toh masih ada 8 jam yang harus saya lalui diatas kapal yang sedang berlayar membelah laut Aegean ini. Saya memilih duduk di dekat jendela karena ingin mendapat pemandangan sempurna matahari yang sebentar lagi tenggelam. The most beautiful sunset that I’ve ever seen!!

Saya membaca ulang catatan cara menuju bandara Athens International Airport pada agenda. Saya sudah browsing dari jauh-jauh hari dan mencatat lengkap informasi ini. Saya akan naik shuttle bus airport dengan kode X96 yang datang tiap 20 menit dan beroperasi selama 24 jam penuh. Saya sebenarnya ragu apakah shuttle bus airport ini benar-benar beroperasi selama 24 jam mengingat saat ini adalah low season kunjungan turis. Selain itu siapa yang mau ke bandara tengah malam bolong selain mahasiswa kantong kering macam saya demi menghemat biaya akomodasi. Tiga hari sebelumnya saya sempat bertanya pada petugas loket tiket ferry Blue Star tentang bus ini dan wanita penjaga loket itu mengangguk lalu menulis pada secarik post it “BUS X96”. Keraguan saya mulai luntur sejak itu.

Saya tidak tidur sepanjang perjalanan pulang menuju Athens ini. Selain karena cemas saya juga lapar. Bekal 4 buah croissant sudah habis sejak sebelum hari gelap. Saya benar-benar bokek sekarang. Uang cash di dompet tinggal €10 dan akan saya gunakan untuk membayar shuttle bus €5. Saya akan beli makanan saat sampai Athens nanti. Harga makanan di atas kapal ini cukup mahal. Susah menemukan ATM di Santorini dan sekalinya ketemu ATMnya rusak. Selain itu banyak pengeluaran tak terduga seperti harus naik taksi karena bus di Oia tidak kunjung datang. OH MY GOD!! Saya tidak terpikir perjalanan solo pertama saya akan ter-seok-seok seperti ini. Saya menertawai diri sendiri dalam hati.

Cahaya kota Athens kian jelas ketika kapal ferry mulai menepi. “All is well, all is well” saya menyemangati diri sendiri. Semua penumpang menuruni kapal ferry yang telah parkir di dermaga pelabuhan. Saya berusaha berjalan mantap menuju halte bus yang letaknya tak jauh dari dermaga. Kondisi masih ramai penumpang ferry yang baru tiba. Saya duduk menunggu bus menuju airport. Layar penanda kedatangan bus masih menyala pertanda baik masih ada bus yang beroperasi dini hari ini. Bus pertama melintas setelah 15 menit menunggu. Bukan bus X96. Bus kedua melintas setelah 30 menit menunggu. Bukan juga bus X96. Saya mulai ciut nyali. Halte yang tadinya ramai mendadak sepi. Kios toserba dekat halte tiba-tiba tutup. Saya harus memutar otak mencari cara menuju bandara.

Orang asing duduk sendirian pada dini hari di halte bus dekat pelabuhan dengan memangku ransel besar. Saya benar-benar sasaran empuk tindak kejahatan. Yunani sedang dilanda krisis moneter sehingga banyak homeless berkeliaran. Kondisi yang sangat tidak nyaman. Saya akhirnya memutuskan menunggu di coffe shop di seberang jalan yang masih buka padahal tidak punya uang. Saya berniat menghangatkan badan disana karena udara yang sangat berangin diluar walaupun suhu malam itu “hanya” 17 derajat. Saya baru saja hendak membuka pintu ketika si pelayan dari dalam memutar papan bertuliskan “CLOSE”. OH MY LOOORD!! Kesialan bertubi-tubi. Saya benar-benar kehabisan akal harus menunggu dimana. Saya melirik arloji yang menampilkan angka 01.00 dini hari.

Saya melipir di depan coffe shop yang sudah tertutup rolling door sekarang. Kondisi sekitar pelabuhan makin sepi. Hanya ada beberapa sopir yang tidur dalam taksinya serta beberapa homeless.  Layar penanda kedatangan bus tidak menampilkan informasi baru lagi. Pertanda buruk!! Saya menyeberang jalan lagi ketika sebuah taksi lewat dan tiba-tiba berhenti di depan halte. Tidak ada jalan lain lagi selain naik taksi. Saya sudah lelah setelah perjalanan jauh dan hari makin larut. Saya membuka pintu taksi dan menanyakan tarif. “Eighty euro to airport! Eighty euro!” seru sopir taksi lantang. Jantung rasanya mau copot. Nggak liat apa wajah mahasiswa saya yang udah memelas gini masih saja dikasih harga selangit. Jelas saya nggak mau dan nggak mampu bayar. Tarif taksi itu bahkan lebih mahal dari tiket pesawat promo saya.

“Duit cuma tinggal €10 kok ya nekat mau naik taksi” saya memarahi diri sendiri. Saya bergegas menutup pintu, menolak harga gila itu, dan berakting jual mahal. “How much do you want, Sir? Airport is far away from here. There is no bus anymore” rayu si sopir taksi. Saya berjalan saja meninggalkan taksi “mahal” itu dan pura-pura tidak membutuhkannya lagi. Trik menawar yang biasa saya lakukan di Indonesia ternyata berhasil juga disini. “Seventy  euro! Sixty euro! Okay the last offer, fifty euro! Good price, Sir! Come on!” sopir taksi meneriaki saya bertubi-tubi. Saya berbalik badan dan menawar lagi. “How about ten euro?” Kata-kata itu meluncur begitu saja karena otak saya sudah buntu. Sontak saya dimaki sejadi-jadinya oleh si supir taksi. Saya langsung kabur terbirit-birit.

Saya kembali lagi ke depan coffee shop. Ada deretan mesin ATM disana. Kepala saya terasa berat karena lapar luar biasa dan kehabisan tenaga karena kabur dari supir taksi tak tahu diri tadi. Saya mendadak jadi melankolis dan teringat teman-teman yang biasa traveling bareng. Kalau saja saya bersama mereka saat ini pasti kita nekat menunggu bus sampai pagi. Saya berada di jalan yang benar-benar buntu sekarang. Sudah pukul setengah dua pagi. Saya ingin mengambil uang di deretan ATM itu. Saya ingin membeli makan. Saya ingin naik taksi menuju bandara secepat mungkin.

Mengambil uang di ATM merupakan pilihan yang ceroboh. ATM di sini tidak seperti ATM di Indonesia yang memiliki pelindung ruang kaca dengan AC yang nyaman. Mesin ATM di sini tertanam begitu saya pada dinding di jalanan. Kondisi di sini sudah benar-benar sepi sekarang. Bagaimana jika saat mengambil uang ada yang merebut kartu ATM saya dari belakang? Siapa yang akan menolong saya? Kartu ATM itu harapan hidup satu-satunya berisi uang beasiswa untuk hidup satu bulan kedepan. Otak saya mulai memutar skenario-skenario terburuk. Kewaspadaan yang berlebihan. Mungkin terbiasa dengan headline kriminal yang tiap hari muncul di media Indonesia. Saya berpikir dua kali.

Saya benar-benar sudah pasrah sekarang. Saya berjalan limbung melewati deretan mesin ATM. Saya berjalan tak tentu arah menahan rasa lapar dan berat di kepala ketika mata saya tiba-tiba menangkap sign board hotel. Harapan menyala lagi. Pesan kamar di hotel dengan jaminan passport dan esok hari ketika sudah ramai baru ambil uang di ATM untuk membayar. Perfect! Perfect plan! Saya agak lupa nama hotelnya. Hotel Athens kalau tidak salah. Hotel ini tidak seperti hotel. Umurnya sudah tua dan terselip diantara bangunan-bangunan lain yang lebih besar. Oleh karena itu saya berani masuk.

Receptionist hotel ini seorang anak muda yang fasih berbahasa inggris. Dia bilang kalau sudah lewat tengah malam biasanya bus menuju airport menunggu penumpang di suatu tempat dekat hotel ini. Kalau tidak ada penumpang yang datang maka bus tidak akan beroperasi. Saya sudah hilang harapan pada bus itu. Malam ini saya putuskan untuk tidur di hotel tua ini. Tarifnya €20 untuk kamar single dengan bed besar. Harga yang masih masuk akal.

Saya lansung melemparkan diri diatas kasur yang entah kenapa begitu nikmat. Punggung saya sudah kesemutan setelah duduk 8 jam di kapal ferry ditambah memanggul ransel mondar-mandir 2 jam lebih di pelabuhan. Saya mengirim pesan line ke teman traveling saya di Lithuania. “I had a rough day”. Tidak ada balasan. Saya tertidur tanpa berganti pakaian.

Pagi harinya setelah check out dan ambil uang di ATM, saya menunggu bus X96. Tiga puluh menit menunggu bus tak kunjung tiba. Kondisi pelabuhan penuh sesak orang sekarang. Saya kembali ragu-ragu. Saya harus mengejar pesawat ke Istanbul yang akan take off dua jam lagi. Saya bertanya pada orang dikanan-kiri namun tidak ada yang bisa bahasa Inggris. Ujian macam apa lagi ini. Akhirnya saya mengikuti saran si receptionist hotel yang tadi saat check out bilang untuk naik metro saja ke bandara. Akhirnya saya bisa tiba in time di airport menggunakan metro. Setelah lari tergopoh-gopoh menuju check-in counter eeeh pesawatnya delay. Saya tertunduk lesu. L

Kamis, 10 Desember 2015

5 Kuliner Wajib Saat Berkunjung Ke Turki

Arasta Bazar Turkey
Bagi para pencinta kuliner pasti kota Istanbul di Turki menjadi salah satu tempat yang paling membahagiakan. Alasannya adalah di kota ini bertebaran tempat makan yang menyajikan kekayaan kuliner khas Turki dengan harga bersahabat. Cita rasa makanan yang otentik dipadu dengan keramah-tamahan para pedagang menghasilkan pengalaman tak terlupakan.

       Berikut 5 kuliner yang wajib banget buat dicoba saat berkunjung ke Turki terutama kota Istanbul:

1.    Vefa Bocazi
Minuman dengan resep berumur lebih dari 100 tahun
Kalau bukan karena jalan sama orang lokal, saya tidak akan nyasar di kedai minuman Vefa Bocazi. Rahman seorang teman yang asli Istanbul ngotot mengajak saya mencoba minuman bernama Boza.

Boza adalah minuman yang terbuat dari gula, air, dan fermentasi millet. Millet adalah sejenis biji-bijian dari tumbuhan rumput yang tumbuh di kawasan Eurasia. Terjemahan bebasnya sih  jawawut. Warna minumannya kuning dan dimakan dengan taburan kacang.

Rasanya dominan manis dan kacangnya kalau digigit rasanya kayak kapur. Kedai Vefa Bocazi ini penuh banget sama pembeli yang kebanyakan orang lokal. Saya baru sadar kalau kedai minuman ini sangat tua dan bersejarah setelah profilnya masuk di official Instagram page Lonely Planet.

Vefa Bocazi berdiri sejak 1876 yang berarti resep minuman Boza sudah berusia lebih dari 100 tahun. WOW! Pengalaman yang sangat berharga dan saya sangat beruntung pernah mencoba Boza ini. Tapi kalau ditanya harga saya nggak tahu karena cuma di traktir hehe!

2.    Dondurma
Es Krim Turki di depan Ayya Sofya
Dondurma itu adalah es krim khas Turki. Perbedaan Dondurma dengan es krim biasa terletak pada teksturnya yang  sangat kenyal, elastis, dan tidak mudah mencair. Rahasianya ada pada kompisisi es krim yang ditambah salep dan mastic. Salep adalah tepung dari akar anggrek dan mastic adalah getah tumbuhan.

Cara penyajian Dondurma sangat unik karena dihidangkan melalui atraksi. Pedagang akan memutar Dondurma dengan tongkat besi panjang, menarik-ulur, bercanda dengan pembeli seolah-olah Dondurma akan diberikan padahal tidak dan terakhir membunyikan lonceng. Kalau mau lihat videonya bisa cari di YouTube.

Tidak ada rasa unik yang Turki banget untuk Dondurma. Rasanya standar coklat, vanila, dan buah-buahan namun favorite saya Dondurma mixed coklat vanila pake topping kacang pistachio. Sluuurp!

3.    Simit
Simit 1 TL
Simit adalah roti bulat besar yang tengahnya bolong seperti donat dan diatasnya ada taburan wijen. Cara makannya bisa dibelah dan dikasih Nutella tengahnya atau dimakan gitu aja tapi rasanya tawar.

Jujur saya tidak terlalu suka Simit karena kalau dimakan bikin seret. Saya tertarik beli Simit karena makanan ini sangat populer dan banyak banget dijajakan di pelataran dekat Masjid Biru. Simit ditata bertumpuk dalam gerobak yang kelihatan menggoda selera.

Waktu di kapal ferry mau nyebrang selat Bosphorus saya juga lihat pedagang yang jual Simit dengan ditaruh diatas kepala kayak orang jual sate di Indonesia. Walaupun bukan kegemaran tapi sangat saya rekomendasikan buat dicoba karena roti ini merupakan bagian dari kebudayan masyarakat Turki. Harga Simit pun sangat murah cuma 1 turkish lira atau sekitar 5 ribu saja.

4.    Baklava and Turkish Delight
Turkish Delight sebelah kiri dan homemade turkish snack (lupa namanya)
Baklava adalah makanan penutup khas Turki. Baklava terdiri dari lapisan lapisan kulit pastry tipis yang diisi berbagai macam kacang yang dihancurkan. Baklava rasanya manis, legit, lembut dan crunchy.

Lagi-lagi saya beruntung karena punya teman orang lokal Turki. Saya jadi punya kesempatan mencicipi Baklava yang dibuat langsung oleh ibu Rahman. Jelas rasanya lebih joooss dan otentik daripada Baklava di toko oleh-oleh. Sepiring Baklava pun ludes oleh kami berdua hehe!

Turkish Delight juga adalah makanan penutup yang sangat populer di Turki. Turkish Delight sebenarnya adalah semacam jely yang berisi potongan berbagai macam kacang atau kurma. Biasanya turkish delight berisi campuran kacang pistachio, hazelnuts, almond, dan walnuts.

Turkish Delight berbentuk persegi warna-warni yang dilapisi semacam tepung dan gula halus agar tidak terlalu lengket. Setiap toko oleh-oleh di Istanbul pasti menjual Turkish Delight jadi sempatkanlah icip-icip tester hehe! Jangan khawatir kalau mau beli harganya sangat terjangkau kok!

5.    Turkish Coffe and Tea
Turkish Coffee
Minum teh dan kopi merupakan kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan dari orang Turki. Kata Rahman teh dan kopi sudah menjadi minuman nasional yang mereka minum setiap hari.

Teman saya sesama exchange student di Lithuania asal Turki sampai membawa teko khusus dari negaranya untuk membuat kopi tiap pagi. Dia bilang rasa yang dihasilkan akan berbeda. Bentuk tekonnya unik yaitu menyerupai teko air biasa yang bertumpuk.

Selain bentuk teko yang berbeda, cangkir dan gelas untuk minumnya pun berbeda. Cangkir kopi ukurannya sangat lebih kecil dari cangkir normal dengan pola ornamen khas Turki. Gelas untuk teh bentuknya seperti kuali dari kaca yang ukurannya juga kecil.

Saya pernah mencoba keduanya. Kopi Turki rasanya sangat kuat dan tidak terlalu asam. Teh Turki menurut saya sangat nikmat karena mempunyai rasa yang sangat kaya. Kalau di Indonesia saya biasa minum teh melati namun di Turki ada banyak sekali pilihan rasa teh. Teh rasa buah, rempah, hingga teh yang berbentuk bunga yang bisa mekar kalau diseduh serta teh yang membuat nyenyak tidur dan menghilangkan capek.

Saya bukan penggemar kopi jadi saya tidak bisa cerita banyak tentang jenis-jenis kopi di Turki. Saya hanya mencoba secangkir kopi Turki untuk pengalaman. Rekomendasi saya untuk coba kopi atau teh adalah kedai di Arasta Bazaar karena bisa sekalian lihat tari Sufi gratis kalau sore dan letaknya tak jauh di Blue Mosque.

Kata Rahman hal yang paling dirindukan saat masih di Lithuania adalah kopi dan teh Turki. Mungkin seperti orang Indonesia yang selalu merindukan Indomie. Ciee nggak nyambung!

NOTES
·     Kebab tidak masuk dalam daftar karena sudah banyak dijumpai di berbagai negara jadi menurut saya kurang khas. Saya juga mencoba kebab di Istanbul dan semuanya rata-rata enak dengan porsi jumbo. Worth to try as well!

·     Jalan-jalanlah ke daerah Ortakoy di dekat selat Bosphorus karena ada banyak hawker food disana kalau malam hari yang bisa dijadikan pilihan kuliner. Saya mencoba Kumpir yaitu baked potato ala Turki yang cukup mengenyangkan.

·   Hal lain yang patut dicoba adalah shisha yaitu flavoured smoke khas timur tengah. Saya mencoba beberapa hisap karena ditawari gratis oleh staff hostel. Saya pribadi sih kurang suka karena rasanya seperti merokok namun lebih ringan.

Rabu, 02 Desember 2015

Hammam : Mandi Tradisional Ala Raja di Turki

Perangkat mandi Hammam : kain pestamal, scrubber, tiket treatment
Saya mengetahui informasi tentang Hamam dari buku Lonely Planet ketika sedang research untuk bikin itinerary Turki. Nah Hamam ini kata Lonely Planet merupakan salah satu aktifitas yang direkomentasikan banget untuk dicoba ketika kita berkunjung ke Turki. Lonely Planet memberikan daftar beberapa pilihan tempat kita bisa melakukan Hamam. Pilihan saya jatuh pada Camberlitas Hamami karena kebetulan lokasinya dekat dengan hostel tempat saya menginap. Selain itu ada harga discount 20% buat yang punya ISIC Card atau kartu identitas pelajar internasional. Kebetulan saya punya ISIC Card jadi ya harus semaksimal mungkin dimanfaatkan hhe! J

Saya mencoba Hamam pada hari terakhir setelah tiga hari full jalan-jalan di Istanbul. Tips ini saya dapat dari seorang teman yang mengatakan kalau Hamam ini enaknya dicoba pada hari terakhir traveling setelah badan dan kaki kita pegal-pegal. Saya pikir Camberlitas Hamami merupakan bangunan yang megah namun ternyata dari luar cuma keliatan 2 daun pintu yang nyempil diantara toko penjual kebab, tukang cukur, dan lampu hias. Saya awalnya sempat ragu-ragu namun setelah ngintip ngintip dari luar akhirnya nekat masuk juga.

Saya disambut seorang receptionist yang menawarkan beberapa pilihan paket Hamam. Kita bisa memilih untuk mandi sendiri (self service bath) atau ada juga attendance yang bertugas untuk memandikan kita. Treatment nya pun macam-macam, mulai dari yang paling basic (only scrub and massage) hingga berbagai treatment tambahan misalnya clay mask atau reflexology. Saya memilih paket yang terdapat attendance untuk memandikan dan treatment yang paling basic. Setelah membayar saya dikasih kunci locker, satu helai kain kotak kotak merah seperti digambar namanya pestamal, sabun atau scrubber, dan satu ticket yang mengindikasikan jenis treatment yang kita pilih.

Saya menuju sebuah ruangan untuk ganti baju. Satu pengunjung mempunyai satu ruang ganti peribadi. Saya diharuskan melepas semua pakaian hingga underwear dan hanya menggunakan kain pestamal sebagai gantinya. Saya meninggalkan semua barang di ruang ganti tersebut, menguncinya, dan menuju tempat mandi. Saya merasa sangat was-was karena berkeliaran hanya dengan menggunakan sehelai kain pestamal. Salah gerak sedikit saja kain ini bisa copot. Horor abis! Kain pestamal ini seukuran taplak meja dan jika saya memakai kain pestamal ini akan seatas lutut. Bayangkan jika bule bule yang tinggi itu memakai pestamal ini. Horor kuadrat! Untungnya cowok dan cewek dipisahkan tempat mandinya.

Suasana dalam Cemberlitas Hammami. Saya nggak bawa kamera masuk karena takut basah dan dikira stalking.
Foto sourse : onewayturkey.com
Setelah berganti pakaian dengan pestamal saya memasuki tempat mandi yang ternyata megah dan unik. Keseluruhan bangunan terbuat dari marmer berwarna putih kecoklatan. Bangunannya berbentuk bulat dengan kubah tinggi sebagai atapnya. Saya seperti berada di giant sauna karena ruangan tersebut dipenuhi dengan uap panas. Saya tidak tahu berapa derajat tepatnya suhu ruangan tersebut namun ketika memasuki ruangan tersebut saya langsung berkeringat disekujur tubuh. Ditengah ruangan terdapat semacam meja marmer super besar dengan diameter kira kira 5-6 meter. Saya langsung rebahan diatas meja tersebut mengikuti yang dilakukan pengunjung lain. Saya sangat menikmati sensasi hangat disekujur tubuh. Sensasi saat butiran keringat mengalir turun dari dahi hingga ke pipi. Saya memejamkan mata sambil menunggu antrian untuk di pijat oleh attendant.
Prosesi Hammam  diawali dengan menyiramkan air dingin disekujur tubuh lalu attendant akan menggosok badan kita dengan scrubber untuk mengangkat kulit mati. Setelah itu disiram air dingin lagi dan dibersihkan dengan sabun. Semua prosesi dilakukan dengan posisi berbaring diatas meja marmer. Bagian paling menyenangkan adalah ketika dipijat setelah dibersihkan dari sisa sisa sabun. Kaki, tangan, dan keseluruhan badan dipuntir, ditekan, dan diurut hingga timbul bunyi gemeretakan. Sensasinya sangat mantap. Selesai dengan tubuh selanjutnya saya berpindah ke ruangan yang lebih kecil. Ruangan tersebut berisi jajaran kursi marmer dengan kran dan bak kecil berisi air. Saya duduk diatas kursi marmer dan dikeramasi. Air diguyur dengan semena mena dengan gayung besar ke atas kepala dan tak lupa pijatan deri ujung kepala hingga leher. Selesai dengan bagian kepala saya pindah ke ruangan ketiga yang berbentuk persegi berisi jajaran shower dalam bilik tertutup. Treatment diakhiri dengan mandi (lagi) yang kali ini dilakukan sendiri. Nah abis mandi untuk yang kedua ini kita akan mengganti pestamal basah kita dengan lilitan handuk besar yang hangat. Nyamaaaaan :)
Seusai Hammam ini badan terasa sangat bersih dan nyaman. Pengalaman yang mungkin sekali seumur hidup yang tak akan pernah saya lupa. Setelah tidur-tiduran sebentar diruang ganti yang memang ada kasurnya saya berganti baju dan jalan pulang ke hostel. Di perjalanan pulang saya berpikir kalau solo traveling sama sekali tidak menyedihkan. Saya sangat menikmati “me time” di Camberlitas Hammami tadi. Traveling never felt so good like this :) I think I get addicted and want to do it more :)

Jumat, 23 Oktober 2015

Makan Nasi Lauk Yogurth Di Turki

Makanan rumahan ala Turki

        Saya senang bukan kepalang ketika diajak makan malam dirumah Rahman*. Bukan hanya artinya penghematan namun juga saya akan mencoba makanan rumahan otentik ala Turki. Rahman adalah teman sesama exchange student di Lithuania. Dia dan keluarga nya tinggal di Istanbul. Semua terjadi secara kebetulan saja. Awalnya saya contact Rahman karena ingin bertanya tentang transportation system di Istanbul beberapa hari sebelum keberangkatan. Eeeh malah ditawarin dijemput di airport dan diajak makan malam. Siapa yang sanggup menolak? Yihaaaa!!

            Setelah landing di bandara Sabiha Gokcen saya harus naik shuttle bus bandara ke pusat kota di daerah Taksim. Saya akan di jemput Rahman di tempat pemberhentian bus di Taksim. Rahman datang bersama sepupunya dengan menggunakan mobil sedan warna hitam. Sore itu lalu lintas Istanbul macet. Banyak mobil tumpah ruah di jalan raya persis kondisi jalanan di Indonesia. Sepanjang perjalanan kami mengobrol ringan tentang keluarga. Ayah Rahman pedagang peralatan makan khas Turki seperti teko, piring, dan gelas teh atau kopi. Ibu Rahman ibu rumah tangga solihah. Rahman anak bungsu dan semua kakaknya telah menikah. Keluarga kakak-kakak Rahman berada satu flat namun beda lantai. Rumah paman dan saudara sepupu Rahman saling berdekatan. Kebanyakan dari mereka adalah pedagang.

Sebelum sampai rumah, kami mengantar sepupu Rahman pulang. Ada yang unik dari cara berpamitan orang Turki. Selain bersalaman tangan, mereka juga saling menempelkan pelipis kiri dan kanan. Mirip cipika-cipiki orang Indonesia tapi pakai pelipis. Geli deh liatnya hehe!!

Saya akhirnya tiba di flat tempat keluarga besar Rahman tinggal. Ayah dan Ibu Rahman menyambut kedatangan kami. Pasangan suami istri ini sudah cukup tua. Terlihat dari gurat-gurat di wajah mereka, saya menerka umur mereka antara 50-60 tahun. Saya mengucap salam saling mendoakan dalam islam. Mereka mempersilahkan saya masuk dengan bahasa yang tidak saya mengerti. Hanya salam tadi satu-satunya komunikasi yang berhasil saya pahami. Selebihnya mereka bicara dalam bahasa Turki. Saya hanya senyum-senyum saja pura-pura mengerti.

Saya langsung digiring ke meja makan dekat dapur. Nah, this is the best part of the story! Homemade Turkish Foooood! Makanan yang disajikan di meja makan banyak namun bentuknya tidak ada yang familiar sama sekali.

Pertama ada semacam paprika hijau yang diisi nasi berbumbu seperti tampak pada foto. Saya jadi ragu-ragu mau makannya. Penampakan makanan ini tidak seperti kebab yang menggugah selera. Mau tau rasanya? Menurut saya makanan ini rasanya unik, mungkin karena belum terbiasa ya! Dominan rasa rempah-rempah yang kuat. Nah, uniknya lagi makannya pake yogurth sebagai side dish. Yogurth? Iya, yogurth. Ibu Rahman bilang Turkish yogurth baik untuk kesehatan. Rasa Turkish yogurth ini sama kayak yogurth pada umumnya yang asam namun teksturnya lebih kental. Kebayang nggak rasanya makan paprika isi nasi pake yogurth? Hmmm asem asem sedaaap :9 Saya harus menyembunyikan muka aneh waktu menyantap makanan ini.

Kedua ada semacam nasi putih yang dimakan dengan daging dan kentang berkuah. Makanan yang kedua ini rasanya lebih manusiawi. Nasinya rasanya gurih dan tekstur nasinya lepas atau tidak lengket kayak nasi di Indonesia. Bentuk butiran nasinya panjang dan ramping. Daging dan kentangnya rasanya normal namun dominan rasa rempah-rempah yang kuat. Penampakan daging sama kentangnya ada pada foto di atas. Oiaa makanan kedua ini merupakan masakan dari keluarga kakaknya Rahman yang sengaja diantar khusus untuk saya. Feeling blessed. Baik banget keluarga ini!!! 

Ketiga ada dessert khas Turki namanya Baklava seperti tampak pada foto. Rasa Baklava ini manis terus teksturnya sedikit berserat dan di tengahnya ada berbagai macam kacang. Yuuuums! “Baklava ini homemade jadi rasanya beda sama yang dijual di toko souvenir kata Rahman promosi. “Baiklah, ini memang endes surendes sih!” saya mengambil satu lagi. Dan satu lagi sebelum beranjak ke ruang tamu.

Ternyata jamuan makan malam itu belum selesai saudara-saudara. Ibu Rahman menawarkan teh atau kopi khas Turki. Saya memilih teh walaupun perut sudah buncit maksimal terisi Baklava. “Minum teh dan kopi merupakan kebiasaan orang Turki dan kami melakukannya setiap hari” terang Rahman. Kami berpindah ke ruang tamu untuk minum teh sambil nonton TV. Kami minum teh sambil ditemani camilan berupa beragam jenis kacang.

Gelas kopi Turki yang kecil mungil

            Ukuran cangkir teh dan kopi di Turki sangat kecil dibanding ukuran cangkir normal yang biasa kita gunakan di Indonesia. Saya saja dapat menghabiskan segelas teh dalam dua/tiga kali teguk. Ibu Rahman sangat antusias menambahkan lagi dan lagi teh ke dalam gelas saya. Saya berusaha menghentikannya tapi apa daya, beliau tidak mengerti bahasa Inggris. Saya coba bahasa isyarat tapi tangan saya malah di halau. Saya menatap Rahman memelas dan berharap dia jadi translater. Saya hampir jadi manusia gelonggongan. Rahman malah tertawa makin kencang.

            Pulangnya saya masih dibekali dengan sekotak cokelat berbentuk mawar. Orang tua Rahman sangat ramah tersenyum terus saat saya mengucapkan terima kasih berulang kali. Di mobil saat perjalanan pulang Rahman bilang satu hal. Orang tuanya sangat kagum dengan orang Indonesia karena saat ibadah haji dulu banyak berjumpa dengan jemaah yang masih berusia muda. Mereka salut karena pada usia muda sudah sanggup menjalankan ibadah haji. Oleh karena itu mereka sangat antusias saat saya akan berkunjung ke rumah mereka. Rahman mengantar saya sampai hostel di daerah dekat Blue Mosque. Lega rasanya malam ini saya dapat tidur dengan perut kenyang! 

Regards,
@bgsyudi

Senin, 05 Oktober 2015

Wajib Baca Ini Sebelum Menginap Di Hostel

Athens Style Hostel, Yunani

Akomodasi merupakan pos pengeluaran terbesar dalam traveling. Namun saat ini tempat nginep murah buat para budget traveler (read: hostel) sudah menjamur dimana-mana. Saya sempat beberapa kali nginep di hostel. Beberapa teman saya sering bertanya “gimana sih rasanya tinggal satu kamar bareng strangers di hostel?” Nah, buat temen-temen yang juga penasaran tentang kondisi dan rasanya nginep di hostel berikut saya akan share pengalaman.

Hal yang harus dikompensasi dengan harga hostel yang murah adalah privacy kita. Kita akan berbagi kamar dengan 4/6/8 bahkan hingga 10 orang lain. Semakin banyak orang dalam satu kamar maka semakin murah harga yang harus kita bayar. Tinggal satu kamar dengan banyak orang tentunya tidak senyaman jika kita tinggal di single room. Terlebih jika ada teman kamar yang berkelakuan seenaknya sendiri. 

Saya punya pengalaman unik ketika sedang tinggal di salah satu hostel di Budapest. Saya bersama 3 teman saya memesan 4 bed di mix room (male & female together). Waktu baru datang tiba-tiba ada seorang cowok bule yang dengan santainya bugil dan ganti baju padahal ada beberapa cewek dalam kamar. Mungkin di negara barat itu merupakan hal yang wajar namun saya sempat shocked juga melihatnya. Hiiii!

Hal berikutnya yang harus dikompensasi dengan harga hostel yang murah adalah kenyamanan kita. 

Pertama, kenyamanan tempat tidur. Kita akan tidur di tempat tidur bertingkat atau bunk bed. Saya selalu lebih memilih untuk tidur di bagian bawah karena tidak usah repot naik turun tangga jika ingin ke kasur. Kekurangannya adalah saya akan terganggu jika orang dibagian atas naik atau turun kasur dan banyak melakukan gerakan sehingga menimbulkan bunyi gemeretakan. 

Saat pertama nginep di hostel, saya dan beberapa teman dengan hebohnya rebutan tidur diatas karena kami pikir itu cool namun ternyata justru merepotkan. Tips saya adalah pilihlah kasur yang dekat colokan listrik karena sebagian hostel tidak menyediakan colokan listrik sejumlah kapasitas orang dalam ruangan jadi kadang rebutan. 

Oia kebanyakan hostel tidak menyediakan linen untuk kasur dan perlu extra bucks untuk menyewa linen. Saran saya bawa sarung atau kain pantai untuk alas jika ingin berhemat dan jangan sekali-kali bawa sleeping bag karena itu dilarang dengan alasan kebersihan.

Kedua, kenyamanan kamar mandi. Kita akan berbagi kamar mandi dengan teman satu kamar atau bahkan satu hostel. Saya tidak pernah merasa terganggu dengan kamar mandi yang digunakan secara umum ini. Kondisi kamar mandi secara umum selalu bersih dan wangi. Namun satu hal yang kadang membuat kesal adalah kita harus ngantri di pagi hari. Saya biasanya selalu mengalah untuk bangun lebih pagi dan mandi terlebih dahulu sebelum sarapan untuk menghindari antrian. Oia beberapa hostel menyediakan free towel and toiletries loh jadi jangan lupa cek dulu ya! Kan lumayan bisa mengurangi berat backpack dan menyisakan lebih banyak space untuk buah tangan.

Ketiga, kita harus berkompromi dengan berbagai macam keterbatasan. Harga hostel yang murah disebabkan karena mereka memangkas segala fasilitas yang tidak perlu dan hanya menyediakan sesuatu yang basic saja. Hostel hanya menyediakan tempat untuk tidur and no more. Need linen? Need towel? Need breakfast? You have to pay some extra money. Even padlock for locker? Yes, you have to pay some extra money. 

Namun beberapa hostel kadang memberikan fasilitas-fasilitas tambahan tersebut untuk menarik customer tapi jangan berharap banyak karena fasiltas yang diberikan akan standard hostel. Misalnya hostel menyediakan fasilitas sarapan. Sarapan hanya diberikan pada durasi waktu tertentu dan pada umumnya 9 to 11. Sarapan berupa teh, kopi, susu, dan kadang orange juice. Makanan yang disediakan adalah yang simple dan gampang penyajiannya seperti sereal dan roti tawar dengan berbagai macam selai. Porsi sarapan akan terbatas dan harus bagi-bagi dengan tamu hostel lain. Saya pernah beberapa kali kehabisan sarapan karena telat bangun. Oia jangan lupa cuci piring sendiri ya sehabis makan! 

Sarapan terenak saya saat menginap di sebuah hostel di Krakow Polandia, mereka menyediakan sandwich dengan isian pickles, tomato, all others vegetables, and sliced boiled egg. Saya juga pernah mencicipi sarapan unik di hostel di Yunani, mereka menyediakan sarapan ala masyarakat Yunani. Pasalnya mereka hobi banget nambahin olive oil ke makanan mereka. Pagi itu saya sarapan roti pake keju dan tomat cacah plus olive oil. Rasanya? Tasteless! Wahahaha maklum biasa makan nasi padang yang bumbunya sangat kuat.

Namun selain banyak keterbatasan yang dimiliki hostel, saya sangat senang tinggal disana karena beberapa kelebihan. Tinggal di hostel membuat kita ketemu banyak orang (read:traveler) dari berbagai macam belahan dunia. Walaupun beberapa agak resek namun kebanyakan mereka udah openminded and really friendly! Saya pernah ketemu orang Jepang di sebuah hostel di Turki yang selanjutnya jadi teman jalan karena kita sama sama solo traveler. 

Selain itu, saya merasa tinggal dirumah sendiri jika tinggal di hostel karena ada fasilitas common kitchen untuk para tamu memasak dan bahkan mesin cuci untuk para tamu mencuci baju. Staff hostel juga sangat helpful, mulai dari minta tolong nge-print document, minta tolong booking ini itu, minta suggestion itinerary dan tempat makan sampe pernah saya diajak Halloween Party bareng waktu lagi di sebuah hostel di Tallinn Estonia. 

Yaa itulah pahit manis dunia per-hostel-an! But it’s really worth to try! So don’t hesitate to stay at hostel sometimes when you go travel somewhere J Feel the experience by yourself! Selamat mencoba!

Regards,
@bgsyudi     

Selasa, 22 September 2015

5 Tips Liburan Hemat Di Yunani

Athens, Greece.
Liburan di Yunani identik dengan island hopping menggunakan cruise yang mahal. Namun bukan berarti para pelancong berkantong tipis yang cuma mahasiswa seperti saya tidak bisa menikmati indahnya negeri di kawasan Mediterania ini. Kita hanya harus melakukan research dan mencari banyak-banyak informasi tentang lokasi tujuan agar dapat berhemat. Banyak kok tempat wisata atau tour yang free asal mau mencari.

Berikut ada 5 tips agar liburan di Yunani jadi lebih hemat :

1.    Bawa Kartu ISIC

Status sebagai pelajar/mahasiswa akan sangat menguntungkan jika kalian traveling khususnya di kawasan Eropa. Biasanya pelajar/mahasiswa akan dapat harga lebih murah untuk masuk objek wisata dan beli tiket transportasi.

Saya sangat beruntung karena mempunyai kartu ISIC (International Student Identity Card) dan terdaftar sebagai mahasiswa di salah satu universitas di kawasan Eropa (exchange student).

Ketika mau beli tiket buat masuk Acropolis, saya ditanya oleh petugas apakah masih pelajar/mahasiswa. Saya lalu menunjukan ISIC sambil membayar. Petugas tiket mengembalikan uang saya sambil bilang “It’s FREE for students to enter Acropolis and 6 others archeological sites!” HORE!! Saya senang dan kaget karena biasanya cuma dapat diskon bukan 100% free.

Selain gratis masuk Acropolis, pelajar/mahasiswa juga bisa gratis masuk ke Ancient Agora, Theater Of Dionysius, Roman Agora, Kerameikos, Temple Of Olympian Zeus, dan Hadrian Library. Lumayan banget bisa hemat belasan euro. Saya tidak keluar uang sepeserpun untuk masuk objek wisata di Atena.

2.    Hindari Musim Panas

Yunani akan sangat rame kalau musim panas apalagi kawasan selatan yang banyak pulaunya. Wisatawan akan rame-rame ke pulau-pulau seperti Santorini, Mykonos, Zakynthos untuk party. Kawasan tersebut jadi hyped banget dan harga-harga pun ikutan melambung berkali lipat harga normal.

Jangan heran kalau penginapan di sana punya dua pricelist yang berbeda untuk musim panas dan saat biasa. Hostel pun menerapkan sistem yang sama.

Kalau nggak doyan party banget akan lebih hemat kalau ke Santorini tidak saat musim panas. Pilihlah saat musim semi atau gugur. Saya kemarin ke Santorini bulan Januari yang harusnya musim dingin namun temparatur disana masih hangat sekitar 17 derajat. Matahari masih bersinar cerah, langit biru berawan putih, masih dapat sunset yang spektakuler plus bonus suasana yang tenang dan damai.

3.    Semakin Lambat Semakin Murah

Pilihan moda transportasi sangat berpengaruh terhadap total pengeluaran. Ikutilah prinsip “semakin lambat semakin murah” dalam memilih moda transportasi.

Misalnya saya dari Athena ke Santorini lebih pilih naik ferry daripada pesawat. Memang sih waktu tempuh akan lebih lama tapi dijamin nggak akan rugi kok. Sepanjang perjalanan kita bisa lihat kepulauan Yunani yang eksotis dipadu bangunan dengan arsitektur khas berwarna putih biru.

Contoh lain saya dari Fira ke Oia di Santorini lebih pilih naik bus daripada taksi. Walaupun nunggu bus nya lama tapi bisa ngobrol dan ketemu banyak teman kalau naik bus.

Menurut saya traveling bukan sekedar tempat tujuannya namun juga perjalanannya. Saya sangat menikmati perjalanan  8 jam naik ferry membelah laut Aegean. Saya senang mengambil gambar gereja putih diatas pulau kecil tak berpenghuni. Saya menikmati angin di dek ferry dan melihat kincir angin berputar di kejauhan. Sesuatu yang tidak saya dapatkan ketika naik pesawat.

Namun semua kembali ke pribadi masing-masing dan kebutuhan kita.
Pemandangan pulau yang kita lewati saat naik kapal ferry
4.    Ikut Free Walking Tour

Free Walking Tour sekarang sudah sangat menjamur terutama di kota-kota besar di Eropa. Saya pernah mengikuti tur jalan kaki gratis ini di beberapa negara termasuk di Athena, Yunani.

Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana cara mengikuti tur jalan kaki gratis ini? Jawabannya adalah jangan malas browsing! Ketik saja di browser : Athens free walking tour dan akan muncul banyak pilihan website. Cari informasi jadwal dan tempat kumpul tur ini melalui website tersebut. Ada tur yang bisa langsung datang atau harus registrasi dulu karena peserta dibatasi. Intinya jangan malas browsing yaa!

Tur ini semacam city tour yang biasanya dipandu satu orang guide yang menjelaskan tempat-tempat bersejarah di sekitar Athena. Tur ini gratis tis tis namun di akhir tur ini peserta dapat memberi tip kepada guide seiklashnya kok guys! 

5.    Makan Kebab Yunani

Makanan merupakan pos pengeluaran yang cukup besar saat traveling. Untungnya saya bukan orang yang rewel urusan makanan. Agar dapat berhemat banyak teman saya yang masak di hostel tapi biasanya saya memilih beli street food karena males ribet.

Khusus di Yunani ada yang namanya Greek Kebab – mungkin bangsa Turki Ottoman dulu yang membawa pengaruh hingga kesini. Saat di Athena tempat makan favorit saya adalah kedai pinggir jalan yang menjual Greek Kebab seharga hanya 1 euro. Letaknya persis di luar stasiun Metro Monastiraki.

Kebab bisa dijadikan pilihan jika ingin sangat berhemat. Namun jika bosan ada satu rekomendasi tempat makan lain di Yunani. Restaurant makanan cepat saji lokal bernama Goody’s. Burgernya sangat juicy dan kentangnya sangat tasty serta menurutku rasanya jauuuuh lebih enak dari restaurant cepat saji yang sudah terkenal. 

Burger & kentang Goody's
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...